Cara lain untuk mengingat kematian adalah dengan masuk kedalam kuburan atau dengan menyaksikan orang-orang yang sedang sakit.
Langkah ini merupakan hal-hal yang bisa memperbaharui dzikrul maut di dalam hati sehingga mendominasi, dan akhirnya menjadi perhatian utama kita.
Pada saat itulah kita nyaris telah siap dan terhindar dari tipu daya dunia. Jika tidak, maka dohir hati dan manisnya lisan kita tidak lagi banyak berguna dalam memperingatkan. Jika hati merasa senang dengan sesuatu dari dunia, kita harus segera ingat bahwa kita pasti berpisah darinya.
Pada suatu hari Ibnu Muth’i melihat rumahnya lalu mengagumi keindahannya kemudian ia menangis, dan berkata: “Demi Allah kalau bukan karena kematian niscaya aku merasa senang kepadamu, dan seandainya bukan karena kita akan berada di dalam himpitan kuburan niscaya kami merasa senang kepada dunia”. Kemudian ia menangis dengan keras sehingga suaranya terdengar.
Menurut Al-Ghazali, manusia yang tidak mau mengingat kematian disebabkan oleh panjangnya angan-angan. Panjang angan-angan ini disebabkan oleh dua hal, yaitu karena cinta dunia dan karena kebodohan.
Apabila kita merasa senang dengan dunia, syahwat, kenikmatan, dan berbagai kaitannya, hati kita akan merasa berat untuk berpisah dari dunia. Hati dan pikiran hanya akan terkonsentrasi dan tertambat pada dunia. Hidup hanya di isi dengan kesibukan pada urusan dunia.
Setiap saat pikiran hanya fokus pada masalah uang, keluarga, kedudukan, karir, dan kesenangan. Tanpa disadari, akhirnya kita telah masuk pada perangkap menunda-nunda beramal untuk kehidupan akhirat.
Kalaupun melakukan ibadah hanya sebatas gugur kewajiban semata. Kita tidak sadar bahwa apa yang ditunda-tunda hari ini akan menyertai kita pada esok hari. Bahkan, semakin lama semakin kuat dan kokoh. Kita mengira bahwa orang yang tenggelam dengan dunia akan punya kesempatan untuk melepaskannya. Padahal, semakin kita mencintai dunia, maka semakin kecil bahkan akan semakin hilang kita mencintai akhirat.
Itulah karakter jika kita panjang angan-angan yang sepenuh hati selalu mencintai dunia dan selalu berada dalam kebodohan hidup. Karena kita tertipu oleh rayuan dan godaan dunia yang palsu dan sesaat.
Agar kita tidak termasuk pada golongan orang-orang yang panjang angan-angan, alangkah baiknya kita renungi sabda Rasul saw:
“Salah seorang diantara kamu tidak menantikan sesuatu dari dunia kecuali kekayaan yang melampaui batas, kemiskinan yang membuat lupa, sakit yang merusak, ketuaan yang mengikut, kematian yang melumpuhkan, atau dajjal; sedangkan dajjal adalah keburukan yang ghaib dan dinantikan, atau hari kiamat; sedangkan hari kiamat lebih dahsyat dan lebih pahit”.(HR Tirmidzi)
“Manfaatkanlah lima hal sebelum lima hal: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kaya mu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sempitmu, dan masa hidupmu sebelum masa kematianmu”.(HR Abu Dunya)
Inilah pesan yang sangat agung bagi siapa saja yang menjadikan kematian sebagai nasihat dan pelajaran hidup. Dengan terus menerus mengingat mati, artinya kita akan selalu sadar bahwa hidup sebenarnya bukanlah di dunia, tapi di akhirat yang abadi. Wallahu a’lam. Tamat.