Hidupmu akan hidup jika kesadaranmu untuk mengingatNya selalu hidup. Hidupmu akan mati jika kesadaranmu untuk mengingatNya selalu mati.
Bisa saja dohirmu selalu menyebut NamaNya. Bisa saja hari-harimu di isi dengan berbagai ketaatan. Bisa saja statusmu setiap hari menyeru kebaikan dan mensyiarkan kebenaran Islam. Bisa saja kau hidup sebagai penyeru kebenaran. Dan bisa saja seluruh hidupmu kau tampakkan kemuliaan Islam.
Namun, apakah kesadaranmu untuk selalu berhubungan dengan Allah sebagai pengikat dan pengendali setiap aktifitas hidupmu? Itulah ruhnya hidup dan kehidupanmu.
Jangan sampai lisanmu penuh kebijaksanaan dan sering ucapkan firmanNya, tapi hatimu hanya mencari keridhoan dan pujian selainNya.
Jangan sampai lakumu selalu memperlihatkan kebaikan, kebenaran, dan keagungan Islam, tapi hatimu ternyata lebih gandrung dan condong untuk mendapatkan harta dan tahta.
Jangan sampai pikiranmu yang kau tuangkan di atas mimbar, dalam seminar, saat pengajian, ataupun dalam tulisan kau menyerukan akidah Islam, menyerukan syariat Islam, dan menyerukan penegakkan Islam kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Namun lagi-lagi apa yang kau tampakkan bertolak belakang dengan apa yang kau inginkan.
Ternyata kepintaranmu, kesolehanmu, kefaqihanmu, kecerdasanmu, dan kealimanmu, bukan sebagai saksi untuk mentauhidkanNya, untuk menyebarkan kemuliaan Islam, dan untuk wujudkan makna Islam sebagai rahmatan lil a’lamiin.
Semua kau lakukan lebih besar keinginanmu untuk meraih dan mendapatkan nikmat dunia daripada kesadaranmu untuk selalu tunduk padaNya dan selalu merasa hina di hadapanNya.
Ternyata hatimu lebih asyik dan khusu mencintai keinginan duniawimu daripada mencintai Robbmu.
Ternyata apa yang kau katakan dan apa yang kau tampakkan, bukanlah apa yang kau maksudkan. Harapmu bukan untukNya, tapi untuk ambisi dan syahwatmu sendiri.
Wahai diri! Tidakkah cukup renungan ini untuk menjadikanmu segera kembali padaNya, bertobat nasuha kepadaNya, dan berakad kembali hanya menjadi hambaNya, bukan hamba diri, setan, dan dunia?
Mumpung sisa nafas hidup masih Allah beri, isilah nafasmu, pikiranmu, lisanmu, lakumu, dan lahir batinmu untuk kembali belajar jujur padaNya, pada diri, dan luar diri!
Jujurlah bahwa hidupmu hanya butuh padaNya, butuh rahmatNya, butuh ampunaNya, butuh cintaNya, dan butuh ridhoNya!
Keinginanmu, syahwatmu, nafsumu, dan segala ambisi duniawimu, bukanlah yang kau butuhkan. Sebab, segala nikmat dan kebutuhan dunia sudah Allah tetapkan dan jaminkan untukmu.
Jadi, hidupmu akan hidup, saat kau selalu jujur untuk mencari ridhoNya, bukan mencari ridho mahlukNya. Selama kau bohongi sadarmu untuk selalu butuh padaNya, selama itu kau hanya sibuk bertopeng dan mencitrakan dirimu yang ingin dan cinta dunia dengan mengatasnamakan agama.