Menu Tutup

Aku Berpikir, Aku Temukan Cinta

Hidupku sebenarnya sederhana ketika aku hendak mendapatkan cinta yang dapat membimbingku selalu berada dalam langkah yang benar. Aku hanya membutuhkan keyakinan yang benar. Dengan keyakinan yang benar, cinta dengan sendirinya akan selalu hidup dalam keyakinan yang benar. Untuk mendapatkan keyakinan cinta yang benar, aku harus berangkat dari sebuah pemikiran yang benar.

Menurut Anita Tylor, berpikir artinya proses penarikan kesimpulan. Bambang Sumantri, mendefinisikan berpikir sebagai perpaduan otak dengan energi dalam proses mengolah informasi, baik yang datang dari diri sendiri maupun yang datang dari luar diri. Berbeda dengan Jujun S. Sumantri, berpikir diartikan suatu kegiatan untuk menemukan pengetahuan yang benar. Sedangkan Syaikh Taqiyuddin dengan pemikiran yang cemerlang mampu mendefiniskan akal, pemikiran, atau kesadaran sebagai pemindahan penginderaan terhadap fakta melalui panca indera ke dalam otak, yang disertai adanya informasi awal yang akan digunakan untuk menafsirkan fakta tersebut.

Aisyah ra. pernah berkata bahwa siapa saja yang menjadikan Allah SWT sebagai akalnya, maka beruntunglah orang tersebut. Begitu juga Rasulullah saw. Bersabda:

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu sampai hawa nafsu (keinginan)nya mengikuti (tunduk) terhadap apa yang aku bawa (Islam)”.

Pada hadits lain dikatakan:

“Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga aku berada dalam pikirannya ketika ia berpikir”.

Dari keterangan ini, aku bisa mendapatkan keyakinan yang benar, yang diperoleh dari pemikiran yang benar. Artinya, hanya dengan menyandarkan keyakinan (akidah akliyah) pada Allah SWT semata, proses berpikir mulai dari mengungkap fakta oleh panca indera, lalu ditangkap oleh otak dan diolah dengan adanya infomasi terdahulu, lalu aku tafsirkan fakta yang aku tangkap tadi sehingga akhirnya sampailah aku berada dalam bimbingan dan petunjuk Allah SWT.

Allah SWT memberikan padaku kelebihan dan kemuliaan berupa akal. Kelebihan dan kemuliaan inilah yang membedakan diriku dengan malaikat dan setan. Setan hanya bisa berbuat dosa dan kemaksiatan. Malaikat hanya bisa berbuat taat dan tunduk. Sementara, aku diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi dan mengabdi hanya kepada-Nya. Dengan akal inilah aku bisa mengendalikan naluri cintaku agar cinta yang aku labuhkan bersandar kepada tempat yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Dari sini, pemaknaan tentang aku berpikir, aku temukan cinta dapat aku uraikan. Aku harus sadar, dan selalu harus sadar bahwa hikmah Allah SWT ciptakan diriku, alam semesta dan kehidupan ini sebagai fakta adanya cinta tulus yang Allah SWT berikan padaku. Agar fakta bahwa Allah SWT tulus mencintai diriku dapat aku tangkap, Allah SWT menciptakan akal untukku sebagai alat untuk menemukan cinta-Nya dalam fakta tersebut.

Terjadinya proses penafsiran terhadap fakta bahwa Allah SWT menciptakan diriku di dunia ini hanya untuk beribadah dan menjadi khalifah di bumi, adalah sebagai bukti Allah SWT mencintaiku, dan Allah SWT berharap padaku agar aku tidak mengkhianati cinta-Nya. Penafsiran inilah yang akan menentukan selamat tidaknya cintaku. Apakah cinta yang aku miliki akan condong pada kekafiran dan pembangkangan, atau akan condong pada ketaatan dan ketundukan hanya pada-Nya?

Agar kecenderungan cintaku yang telah diikat oleh akidah akliyah (keyakinan yang rasional) tidak terjerumus pada perwujudan cinta palsu, menipu, pembangkangan, kekufuran dan fatamorgana, baik cintaku kepada Allah atau cintaku karena Allah, Allah SWT mengutus para Rasul untuk menyampaikan wahyu-Nya kepadaku agar aku mendapat petunjuk yang benar untuk tetap berada dalam kecintaan hanya kepada-Nya dan hanya karena-Nya, bukan pada selain-Nya atau tidak karena-Nya, ketika aku mengemban misi hidup di dunia ini, yaitu menjadi khalifah di bumi-Nya dan hanya untuk beribadah kepada-Nya.

Inilah makna aku berpikir, aku temukan cinta. Cinta yang bukan hanya sekedar dorongan naluri, tetapi cinta yang berdasarkan keyakinan yang rasional dan berdasarkan wahyu-Nya semata. Dengan cinta seperti inilah aku akan mampu mengusir seluruh kabut-kabut cinta—segala perhiasan dunia yang semu dan menipu yang menghalangi ketulusan cintaku untuk tetap hanya menuju-Nya semata.