Menu Tutup

Urgensi dan Cara Praktis Mengingat Kematian (Bagian Tiga)

Rasulullah saw lebih jauh mengingatkan kita bahwa orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan hawa nafsunya dan dia melakukan amal soleh untuk kehidupan setelah kematian (HR At-Tirmidzi).

Tidak seperti kebanyakan orang yang memaknai bahwa yang disebut orang cerdas adalah orang yang memiliki daya intelektual yang berada di atas rata-rata.

Dan di sinilah letak perbedaan visi seorang muslim dengan orang yang tidak mempercayai kehidupan setelah kematian, atau orang yang melalaikan kehidupan setelah kematian.

Kita bisa melihat aktivitas kehidupan kita, apakah lebih banyak melakukan aktivitas duniawi atau aktivitas untuk kehidupan setelah kematian (ukhrawi)?

Semua tergantung dari visi hidup yang kita miliki. Semakin banyak aktivitas hidup tenggelam dengan kehidupan duniawi, gandrung terhadap tipu daya dunia, selalu memanjakan syahwat, dan selalu terfokus pada keinginan mendapatkan kenikmatan dunia, maka dipastikan kita lalai dan mungkin melupakan kematian, bahkan, suka dan menghindari kematian (QS Al-Jumu’ah: 8) yang setiap saat akan mengintai diri kita.

Begitu juga sebaliknya, semakin banyak aktivitas hidup untuk beribadah, tunduk dan patuh pada segala kehendak-Nya, selalu mengendalikan hawa nafsu duniawi, tidak terfokus pada keinginan mendapatkan kenikmatan duniawi hanya sebatas apa yang dibutuhkan, dan selalu menyadari bahwa kehidupan sebenarnya bukanlah dunia tetapi akhirat, maka dipastikan kita selalu mengingat kematian dan tidak lalai sedikitpun bahwa kematian akan datang kepada kita setiap saat setiap waktu.

Jika selama hidup terobsesi untuk mencintai dunia baik itu harta, tahta, atau rupa, sama sekali kita tidak akan ingat kematian. Kalaupun mengingat kematian, itu hanyalah semata-mata menyesali dunia dan sibuk mencela kematian. Mengingat kematian hanya membuat diri kita semakin jauh dari Allah.

Rasulullah saw mengancam orang yang membenci pertemuan dengan Allah dengan ancaman Allah akan membenci pertemuan dengannya (HR Bukhari dan Muslim).

Dengan kata lain, jika kita membenci untuk meningat kematian, Allah akan membenci diri kita kelak di hari kiamat.

Ini memberikan pemahaman, bahwa mengingat kematian merupakan sebuah kebutuhan bagi bagi setiap orang. Sebab, kita yakin akan adanya hari pembalasan dan mengingat kematian akan memberikan energi positif bagi kehidupan.