Menu Tutup

Urgensi dan Cara Praktis Mengingat Kematian (Bagian Lima)

Secara sederhana kehidupan dunia ini akan diakhiri dengan kematian. Kalaupun ketika di dunia mendapatkan penderitaan dan kesusahan—apalagi kesusahan dan penderitaan itu sebagai wujud pengabdian dan ketundukan kepada Allah semata, sejatinya penderitaan itu hanya sementara atau hanya sekejap mata. Sebab itu akan diakhiri oleh yang namanya kematian. Tidak akan selamanya.

Bandingkan dengan akhirat, jika nanti di akhirat kelak (naudzubillahi min dzaalika) kita menderita dan penuh kesusahan karena sewaktu di dunia kita bersenang-senang menikmati dunia dan lupa untuk tujuan hidup kita di dunia, yaitu hanya untuk beribadah kepad Allah.

Kesenangan yang dulu kita rasakan dan nikmati kini berganti dengan penderitaan dan kesusahan yang abadi. Sebab setelah akhirat tidak ada lagi kehidupan, selain kehidupan di surga atau di neraka yang bersifat abadi—selama-lamanya.

Langkah-langkah Praktis Mengingat Mati
Sebelum penyesalan di hari yang tiada akhir (akhirat) tiba, lebih baik penyesalan itu kita hadirkan di hari yang sesaat ini (dunia) dengan menghadirkan dzikrul maut di setiap saat—di setiap hela napas yang kita hembuskan.

Adapun jalan yang akan kita tempuh untuk menghadirkan selalu dzikrul maut di dalam jiwa adalah dengan mengosongkan hati dari segala sesuatu kecuali dengan dzikrul maut.

Ketika dzikrul maut itu telah merasuk dalam jiwa, hal ini akan memberi pengaruh pada diri ketika memaknai kehidupan dunia, bahwa Kehidupan dunia dengan berbagai kenikmatan dan kesenangan yang sesaat dan menipu, perlahan kecintaan pada dunia sedikit demi sedikit menghilang seiring dengan keimanan dan keyakinan pada kehidupan setelah kematian semakin besar dan terus bertambah setiap saat setiap waktu.

Langkah praktis dalam upaya mewujudkan kesadaran untuk selalu mengingat kematian adalah dengan memperbanyak mengingat kawan-kawan, saudara-saudara, para pejabat, atau siapa pun yang telah meninggal untuk dijadikan ibrah bagi kita.

Seperti mengingat bagaimana kematian mereka; bagaimana keadaan mereka setelah berada dalam kuburan; bagaimana gambaran-gambaran kehidupan mereka sebelum meninggal di mana sebelumnya mereka memegang berbagai jabatan, mendapatkan berbagai penghargaan, di hormati oleh banyak orang, dipuja, diagung-agungkan. Memiliki banyak harta kekayaan, memiliki banyak harta simpanan, dan lain sebagainya.

Lalu kita renungkan ketika sekarang mereka sudah berada dalam kubur tidak membawa apa-apa dan tidak mendapatkan apa-apa. Sebab yang ada sekarang hanyalah sebuah tempat yang gelap tertimbun tanah berada dalam sepetak tanah yang pengap dan sesak.

Sementara ketika jasad mereka hancur dalam tanah, maka orang-orang yang mereka tinggalkan tidak akan mampu menolongnya. Isteri-isteri mereka telah menjadi janda, anak-anak mereka telah menjadi yatim, harta mereka menjadi tak berguna, dan singkatnya jejak-jejak kehidupan mereka kini telah terhapuskan. Yang ada hanyalah kenangan dan mungkin sebuah penyesalan yang sama sekali tidak berguna untuk menyesal.

Abu Darda r.a berkata: “Apabila kamu mengingat orang-orang yang sudah mati maka anggaplah dirimu termasuk salah seorang diantara mereka”.

Dengan mengambil pelajaran kematian orang lain, setidaknya kita akan selalu disadarkan bahwa cepat atau lambat kita pun akan mendapatkan giliran meninggalkan dunia ini.

Dan dengan menganggap kita seolah-olah sama seperti mereka yang sudah meninggal dunia, kita akan bisa merasakan dan membayangkan bagaimana jika kematian itu menimpa diri kita.

Sudah dipastikan kita akan merasa terhenyak dan begitu takut yang sangat, andai kita meninggal dalam keadaan tidak mempersiapkan diri dengan bekal amal soleh yang sebanyak-banyaknya.

Apa jadinya kita di hari pembalasan dan penghisaban. Sungguh, sebelum penyesalan yang tiada akhir itu menimpa diri kita, betapa bijaknya jika kita mempersiapkan diri memperbanyak ketaatan dan menjauhi segala apa yang Allah larang, setelah kita disadarkan dalam membayangkan kematian orang lain menimpa diri kita.