Menjadi hal yang fitrah ketika manusia tertarik pada harta, tahta, dan rupa. Dan menjadi hal yang fitrah pula ketika manusia itu lemah, bodoh, serba kurang, dan serba terbatas.
Di satu sisi, manusia berharap menjalani kehidupannya penuh dengan kebahagiaan dan kesempurnaan. Namun, diseberangnya, manusia terbatas oleh fitrahnya sendiri sebagai manusia yang selalu memiliki ketergantungan kepada sesuatu yang dianggapnya agung, maha, dan mampu memberikan segala sesuatu yang menjadi harapan hidupnya.
Dari dua kenyataan fitrah manusia tersebut, maka lahirlah apa itu yang kita sebut sebagai persoalan. Artinya, antara harapan dan kenyataan tidaklah sesuai dengan harapan dan keinginan manusia.
Ada manusia yang berharap mendapatkan kesuksesan, baik itu sukses dalam kontek harta, tahta, ataupun wanita. Namun seringkali harapannya itu terhalang oleh kenyataan dirinya yang belum atau tidak mampu meraih apa yang diharapkannya tersebut.
Ada juga sebagian manusia yang telah mampu meraih kesuksesan untuk mendapatkan harta, tahta, atau rupa sesuai batas cita yang diinginkannya. Namun, batas keinginan tersebut selalu saja digoda oleh rasa tidak puasnya untuk terus menerus menambah dan meningkatkan apa yang menjadi cita-citanya.
Sehingga ia tiada henti berjuang untuk mendapatkan berbagai kesuksesan hidup sesuai dengan kecenderungan mimpi dan cita-citanya, sampai batas yang dia sendiri tidak mampu, atau sampai dia terus memaksakan segala keinginannya tersebut agar terwujud.
Dari sinilah munculnya realitas asasi manusia bahwa sebesar apapun cita-cita hidup manusia, semuaya akan berakhir pada batas manusia tidak mampu lagi untuk mewujudkannya, atau cita manusia dibatasi oleh Allah SWT yang Maha menguasai manusia, yang akan menentukan segala sesuatu yang dimiliki manusia.
Jika pada batas ini, manusia tetap memaksakan kehendaknya tanpa ada keberserahannya kepada Allah sang maha kuasa dan penentu segala harapan manusia, maka munculnya problem dasar manusia yang akan menjadi sumber bencana dan persoalan kehidupan manusia di dunia.
Yang puncaknya, makna kesuksesan yang dipahami manusia berseberangan dengan makna sukses yang dimiliki oleh Allah sebagai pencipta manusia sekaligus sebagai pengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
Dari persoalan di atas, maka muncul berbagai pertanyaan, apakah yang disebut kesuksesan itu? Mengapa manusia ingin sukses? Standar apa atau siapa yang yang dijadikan ukuran kesuksesan oleh manusia? Seperti apakah makna kesuksesan yang dipahami manusia dewasa ini? Bagaimana menurut pandangan Islam yang disebut hakekat kesuksesan itu? Bagaimana cara mewujudkan hakekat kesuksesan menurut pandangan Islam? Apa solusi hakiki untuk mewujudkan kesuksesan manusia baik di dunia ataupun di akhirat?