Menu Tutup

HUBUNGAN NIAT DENGAN KEPRIBADIAN DAN IMAN (Bagian Satu)

Ketika pikiran ingin mendahului perbuatan, itu tandanya kita sedang berharap sesuatu yang dipikirkan. Terwujud tidaknya harapan yang dipikirkan akan tergantung dari sejauh mana daya juang yang dimilikinya.

Daya juang ini berkaitan dengan motifasi yang dimiliki seseorang. Dan motifasi ini dipengaruhi oleh sejauh mana dia memiliki pemahaman terhadap harapan yang dipikirkannya.

Semakin mendalam pemahaman seseorang terhadap pikiran yang diharapkan, maka akan semakin besar dorongan daya juang untuk mewujudkan harapan yang dipikirkannya tersebut.

Dari sini kita akan memahami sejauh mana hubungan antara harapan dan perbuatan atau pikiran dan perbuatan dengan kekuatan motifasi yang lahir dari pemahaman terhadap harapan yang dipikirkan tersebut. Motifasi yang lahir dari sebuah pemahaman tertentu inilah yang dinamakan dengan niat.

Ketika Rasul saw mengingatkan manusia agar selalu meluruskan niat dalam setiap aktifitas hidup, itu artinya Rasul saw mengingatkan kita agar terus menerus memperbaharui niat setiap kali hendak melakukan sesuatu atau meninggalkan sesuatu yang lahir dari dorongan kebutuhan jasmani ataupun naluri, yang telah diikat oleh pemahaman tertentu terhadap apa yang menjadi keinginannya tersebut.

Adanya niat ini karena adanya mafhum tertentu yang akan menjadi pengikat, apakah dorongan dari kebutuhan jasmani atau naluri itu harus dilaksanakan melalui perbuatan atau harus ditinggalkan?

Lantas seberapa pentingkah kita memahami hakekat, fungsi, dan urgensi niat dalam kehidupan umat manusia? Dari mana munculnya niat? Sejauh mana niat mempengaruhi pikiran, ucapan, dan perbuatan manusia? Dan adakah hubungan kausalitas antara niat dengan kepribadian seseorang dan keimanan seseorang?