Menu Tutup

BELAJAR MEMAHAMI PSIKOLOGI IMAN (Bagian Satu)

Ingin rasanya pikiran berlari menuju iman tertinggi. Namun sayang, kesadaran belum mampu memapah setiap hela nafas hidup. Sering kali niat berbelok ria. Pikiran liar tak berarah. Ucapan tak sesuai keyakinan. Begitupun tingkah sering lalu lalang tanpa terikat hukum syara.

Sungguh sayang diri pergi sebelum berangkat. Padahal cukup merayap tapi tiada henti melangkah, kesadaran mengeja pikiran, membimbing segala niat, dan mengikat setiap tingkah, dengan keyakinan dan ketundukkan pada hukum syara. Sungguh terasa adanya makna jalani hari-hari menuju kematian.

Bagaimana semua itu bisa dimulai? Setiap kata yang tertoreh, akankah mampu selalu lahir dari kesadaran untuk selalu wujudkan ketaatan padaNya? Setiap niat yang diazamkan, akankah selalu terpaut pada iman yang rasional untuk menjadikan ridhoNya sebagai labuhan segala harapan dan cita? Setiap tingkah yang terwujud, akankah selalu terikat pada halal haram bersamaan dengan niat, pikiran, ucapan bersatu dalam wujud gerakan anggota badan hanya berada dalam ketundukan pada segala aturanNya dan hanya untuk mendapatkan ridhoNya semata?

Bagaimana semua itu bisa dimulai? Mulailah semua dengan kesadaran untuk selalu menghubungkan segala niat, pikiran, dan tingkah sesuai dengan hukum syara dan hanya berharap ridhoNya. Memang sulit. Tapi kesulitan dengan sendirinya akan perlahan menjadi kemudahan ketika kita memulai dengan mengendalikan lintasan pikiran yang tak sesuai hukum syara dan mencoba untuk dikembalikan pada hukum syara, baik niat, pikiran, ucapan, ataupun tingkah laku kita.