Perjalanan menempuh pertaubatan ternyata tidaklah mudah. Begitu beratnya ketika hati tidak utuh meyakini jalan hidup yang baru ini.
Kegagalan dalam menempuh pertaubatan terletak pada tidak sungguh-sungguhnya kita melakukan pertaubatan.
Bukti ketidaksungguhan kita dalam bertaubat nasuha adalah selalu mudah tertipu oleh bisikan setan yang dihembuskan pada hawa nafsu.
Mudahnya kita tertipu oleh hembusan bisikan setan, dikarenakan kita belum paham hakekat taubat.
Jika taubat diartikan kembali kepada Allah dengan segala konsekuensinya, seharusnya kita hanya fokus pada Allah saja, bukan pada yang lain.
Jika perhatian masih saja pada pengalaman masa lalu yang penuh dengan dosa, dan meninggalkan begitu jauhnya dengan Allah, artinya di sini tidak ada makna taubat yang dijalani.
Adalah bohong besar mengaku bertaubat jika diri kita belum kembali kepada Allah. Makna kembali kepada Allah adalah bahwa yang menjadi fokus perhatian hidup kita hanya terkait dengan segala perintah dan larangan Allah, bukan yang lain.
Jika hari-hari masih di isi dengan berbagai perhatian yang justru melaksanakan larangan Allah dan meninggalkan perintah Allah, itu artinya diri kita tidak dalam kondisi taubat.
Lantas, bagaimana kita bisa fokus perhatiannya hanya kepada tujuan untuk kembali pada Allah?
Artinya, kita harus selalu mengendalikan segala kecenderungan naluri dan jasmani hanya diarahkan kepada Allah, bukan pada selainNya.
Bagaimana kita bisa mengendalikan segala kecenderungan naluri dan jasmani hanya fokus pada Allah?
Artinya, kita harus selalu menyadari setiap saat, setiap waktu, terus menghadirkan Allah dalam setiap aktifitas kehidupan sehari-hari.
Bagaimana kita bisa terus menyadari akan segala aktifitas hidup hanya difokuskan kepada Allah? Jawabannya, kita harus selalu mengingat Allah.
Bagaimana kita bisa selalu mengingat Allah setiap saat setiap waktu? Pikiran kita harus selalu disibukan dengan segala hal yang terkait dengan kebenaran Allah (salah satunya mencari ilmu agama setiap saat setiap waktu).
Anggota tubuh kita harus selalu sibuk dalam rangka melaksanakan segala ketaatan kepada Allah (seluruh hidup kita hanya untuk beribadah kepada Allah, baik itu pendengaran, penglihatan, ucapan, gerak tangan, langkah kaki, dst).
Dan kita harus selalu menghubungkan kesadaran diri dengan Allah (selalu berdoa, bertawakal, memohon pertolongan dan petunjuk Allah setiap saat setiap waktu).
Jika semua itu dilakukan dengan keyakinan, keistiqomahan, kesungguhan, kesabaran, ketawakalan, kesyukuran, dan keberserahan diri secara total, maka makna kembali kepada Allah dan terus bersama Allah, karena Allah, dan hanya fokus menuju Allah, akan selalu menyertai hari-hari sampai tibanya kematian menghampiri diri kita. Wallahu a’lam.