Waktu terus merayap meninggalkan detik yang dilewati; menjauhi menit yang diarungi; melupakan jam yang telah dipakai; menghapus hari yang kemarin; melepas bulan yang telah lalu; dan mengenang tahun yang telah berganti.
Waktu kemarin adalah ajal. Hari ini adalah amal. Dan hari esok adalah misteri atau harapan.
Waktu adalah rizki yang memiliki ruh. Waktu terus mengitari gerak-gerik kehidupan. Waktu akan selalu menggandeng mesra kehidupan. Di mana ada waktu, di sana ada kehidupan. Waktu adalah kehidupan. Kehidupan adalah waktu.
Dunia adalah kesementaraan. Akhirat adalah keabadian. Di sanalah aku hidup dan aku ada. Di sana pula kehidupanku ditentukan. Apakah kehidupan atau waktu hidup aku isi dengan sesuatu yang menjadikanku mulia atau hina, baik di dunia atau di akhirat.
Pada akhirnya waktu adalah milikku. Dan waktu yang aku miliki hanyalah dua, yaitu hari ini dan akhirat. Adapun hari kemarin dan hari esok dunia bukanlah milikku.
Meskipun hakekatnya waktu itu ada tiga, yang lalu, hari ini, dan yang akan datang. Yang lalu adalah apa yang telah aku lewati. Hari ini adalah apa yang sedang aku jalani. Dan hari yang akan datang adalah hari esok dunia dan akhirat. Hari esok dunia adalah hari yang akan atau tidak akan aku miliki.
Singkatnya, waktu bagiku adalah penyesalan, kesempatan, dan harapan. Penyesalan menghampiriku ketika waktu yang lalu aku isi dengan kesia-siaan dan ketidakbermaknaan. Kesempatan mendekapku ketika waktu sedang bersamaku. Dan harapan mendiamiku ketika waktu adalah sesuatu yang tak bisa dipastikan. Sebab, kepastian waktu yang hendak dijelang adalah milik Sang Maha Pemilik waktu.
Sehingga dapat disimpulkan, waktu adalah uang; waktu adalah pedang; waktu adalah kehati-hatian; waktu adalah perhitungan; waktu adalah pengendalian. Itulah waktu yang jadi persepsi sesuai dengan beragamnya cita, harap, keyakinan, kebutuhan, dan keinginan.
Waktu adalah penentu bermakna dan tidaknya kehidupan yang aku jalani. Karena waktu adalah tantangan kesadaranku dalam memahami perjalanan hidupku.
Perjalanan yang di mulai dari benih lalu menjadi segumpal daging yang akan berwujud menjadi manusia—menjadi bayi, anak-anak, remaja, dewasa, tua, sampai tibanya kematian.
Waktu akan selalu mengiringi setiap gerak-gerik hidupku. Ketika kesadaran menghampiri waktu, ketika itu pula waktu adalah teman sejati langkah hidupku.
Sebaliknya, ketika kesadaran tidak lagi hidup dalam gerak-gerik kehidupan, maka waktu akan menjadikanku menyesal, berharap atau berangan. Karena waktu yang setia menyertaiku tak pernah aku perhatikan.
Laksana cinta berharap berlabuh di pantai kenyataan, namun, lautan cinta tak memiliki pantai kesadaran. Itulah waktu yang ‘diaborsi’ ambisi kehidupan yang hanya memiliki keinginan hawa nafsu dan penuh dengan gerak-gerik hidup yang hanya bersandar pada bisikan setan.
Demi waktu yang Allah berikan padaku. Bahwa aku akan mendapatkan kerugian ketika waktu yang aku isi penuh dengan kesia-siaan dan keingkaran pada seluruh atau sebagian firman-firman-Nya.
Sebaliknya, aku akan mendapatkan keuntungan dunia dan akhirat, jika waktu hidupku hanya di isi dengan keimanan, amal soleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran sampai ajalku tiba.