Menu Tutup

ANTARA MASA LALU, HARI INI, DAN ESOK HARI

Meminta hari kemarin kembali, sesuatu yang tak mungkin terjadi. Melupakan hari yang dijalani adalah kelalaian hati. Menjalani yang belum dialami adalah pengkhayal sejati.

Renungi saat mengendarai. Tak selamanya spion harus dilihati. Tak selamanya ke depan mata memandangi. Begitu juga tak selamanya sibuk gunakan gas, rem dan over gigi. Semua harus berjalan sesuai kondisi.

Mungkin bisa jadi ibrah yang berharga buat diri. Janganlah selalu menjadikan masa lalu sebagai kendali diri! Cukuplah hanya jadi pelajaran yang berarti, jika peristiwa itu menyakitkan hati.

Kalaupun yang menyangkut kebaikan diri, jadikanlah masa lalu sebagai pemacu diri! Janganlah terus dibelenggu hari yang telah dilalui! Sebab, nasib hari ini atau esok hari, ditentukan oleh kesadaran memaknai apa yang telah terjadi.

Semakin diri terpenjara hari yang tak akan kembali, semakin nampak nasib yang akan menimpa diri, yang tak jauh dengan apa yang ada dibenak dan di hati.

Begitu juga tak seharusnya menjadikan hari yang sedang dijalani, jadi satu-satunya orientasi. Sebab pelajaran hidup tak cukup memaknai apa yang sedang dijalani.

Masa lalu haruslah jadi cermin sebening hati. Masa yang akan datang jadi fokus apa yang jadi visi dan misi agar hari-hari yang dijalani, tetap berjalan sesuai cermin diri, dan mata yang tertuju pada titik yang pasti.

Janglah pula hanya memandang esok hari, tapi lupa apa yang telah dialami dan hampa yang sedang dijalani. Sebab itu akan membuat diri selalu diliputi asa yang tak membumi.

Berlakulah adil dan bijak bestari memaknai hari untuk meraih mimpi dan wujudkan visi! Sebab tak jarang kita lupa diri, jika yang dituju hanya visi, tapi pondasi sebagai wujud masa yang telah dilewati, tak jadi patokan orentasi, dan jika hari yang sedang dijalani tak hadirkan keringat tiada henti yang sesuai visi yang dimiliki.

Ada waktunya diri kembali memikirkan masa lalu untuk mencari arti, ketika mencukupkan bagi diri hanya sebatas pelajaran untuk hari-hari yang akan dijalani.

Ada waktunya memikirkan apa yang sedang dijalani sebagai ruh kekuatan diri
agar tetap optimis jalani hari-hari.

Dan ada waktunya diri meloncat pada esok hari sebagai kendali hari-hari yang dijalani agar tidak kesana kemari.

Jadi, jika ingin mengubah nasib diri agar terus lebih baik dari apa yang telah dijalani, dan menjadi lebih baik dari apa yang sedang dijalani, maka jadikanlah masa lalu sebagai pelajaran berarti, jadikanlah hari ini sebagai tempatnya kucurkan keringat tiada henti, dan jadikanlah hari esok sebagai visi yang jelas dan pasti agar hari-hari hanya menuju pada visi yang dimiliki.

Apalagi jika kita sebagai seorang muslim. Kitab suci dan sunnah nabi sebagai satu-satunya tumpuan petunjuk hidup yang hakiki, maka menjadi lebih berarti, jika semua hanya berorientasi untuk mengabdi, memperjuangkan Islam sejati agar tegak di muka bumi dalam seluruh lini.

Insya Allah hari-hari akan Allah ridhoi. Masa depan tak lagi merisaukan hati. Masa lalu tak lagi membelenggu diri. Dan hari ini tak lalai wujudkan mimpi.

Sebab semua sudah menyatu antara pikiran, kebutuhan jasmani dan kecenderungan naluri berada dalam kesadaran iman yang hakiki, ketika ridho Allah sebagai visi, ketika iman sebagai pengendali, dan ketika kitab suci dan sunnah nabi sebagai panduan hidup jalani hari-hari, hanya dengan mengabdi pada dzat Ilahi Rabbi.