Menu Tutup

Perjalanan Iman, Antara Syukur dan Sabar (Bagian Dua)

Ya Allah, ampunilah segala sesalku dan terimalah kesadaran ini yang baru sampai disadari, namun belum sampai berwujud bukti. Sebab hari ini dan detik ini, kesadaranku yang hadir—nyatanya berada dalam kekalahan. Kekalahan yang hari kemarin tak menghampiri diriku. 

Kemarin yang pernah berkunjung kehalaman rumah cinta-Mu. Kemarin yang pernah melaksanakan satu hurup firman-Mu dalam aktivitas hidupku. Kemarin yang pernah menyentuh keesaan-Mu  dalam bait-bait puisi kehidupanku. 

Kemarin yang pernah memuja dengan sebutir mimpi akan Kemahaagungan-Mu. Kemarin yang tidak pernah putus asa mencari dan terus mencari menelusuri lorong-lorong kehidupan untuk selalu mendapatkan rahmat-Mu. 

Kemarin yang pernah mencumbu kedamaian hidup bersama syariat-Mu dalam seluruh aspek kehidupanku. 

Kemarin yang pernah hadir untuk selalu mengadukan nasib hidupku dan memohon pertolongan-Mu di setiap sepertiga malamku. 

Kemarin yang pernah meneteskan air mata kehinaanku ketika aku baca firman-firman-Mu sehingga aku temukan selautan sesal akan dosa dan kesesatan selama usia balighku. 

Kemarin pernah bahagia ketika jiwa ikhlasku untuk selalu tunduk dan yakin pada segala ketentuan-Mu. Kemarin yang pernah tak henti kucurkan keringat penghambaan hanya kepada-Mu, hanya untuk mendapat pahala dan ridho-Mu. 

Kemarin yang pernah meneguhkan keyakinan hidupku, bahwa seluruh firman-Mu telah sempurna untuk mengatur kehidupanku dari mulai bangun tidur, masuk wc, memakai pakaian, sampai pengaturan kehidupan politik, ekonomi, hukum, pergaulan, hubungan luar negeri, dan pendidikan. 

Dan kemarin aku yang pernah tak henti setiap gerak-gerik hidupku selalu mengharap pahala dan rido-Mu semata.

Wahai yang Maha melihat setiap gerak-gerik jiwa ragaku! Wahai yang Maha mendengar suara hatiku yang kini belum mampu menyeru kembali kebenaran-Mu keseluruh warga jiwa ragaku dan luar diriku! Wahai yang Maha mengetahui setiap hela nafas niat hidupku! 

Aku di sini, saat ini, belum bisa mengembalikan kehidupanku hari ini pada hari kemarin untuk kehidupanku hari esok—hari akhirat yang menjadi penentu, apakah aku akan mendapatkan surga-Mu atau neraka-Mu (aku berlindung padamu dari siksa neraka).

Ya Allah, penjara hidupku bukanlah emas, berlian, mobil mewah, rumah mewah, jabatan, kekuasaan, kehormatan, dan perhiasan dunia lainnya yang menghalangi keyakinanku untuk selalu berpegang teguh pada syariat-Mu. Sesungguhnya penjaraku adalah ketidakmampuanku untuk selalu menghadirkan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Mu dalam setiap hela nafas hidupku. 

Namun faktanya, hari ini aku terbujur kaku terbungkus kain kafan dunia. Aku mulai mabuk oleh anggur rayuan duniawi. Ya Allah, ampuni aku dan kembalikan aku pada jalan-Mu.