Betapa tidak, tak terhitung keputusan memilih jalan hidupku yang hanya mengandalkan pikiran dan pendengaran semata, menjadikan hidupku jauh dari aturan dan petunjuk-Nya. Sehingga Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, tak lagi menjadi pijakan dalam memutuskan jalan hidup yang aku tempuh.
Walhasil, kehinaan, dan kejahilan jalan hidupku perlahan tidak lagi dianggap kekeliruan, ketika pendengaran dan pikiranku menjadi standar dalam memutuskan pilihan hidup, bukan standar Sang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui atas segala sesuatunya.
Akhirnya kehidupanku pun diserahkan pada tuhan-tuhan palsu—kapitalisme sebagai induk dari tuhan palsu manusia modern yang merajai kehidupan ekonomi, ilmu pengetahuan, politik, budaya, hukum, pendidikan dan peradaban umat manusia yang hari ini diobok-obok oleh tuhan palsu kapitalisme. Sehingga lepaslah seluruh ketergantungan hidupku pada yang Maha Kuasa. Naudzubillahi mindzaalik.
Sungguh sesatnya hamba-Mu ini, jika Engkau tidak membasuh kakiku dari langkah-langkah yang menjauhkan dan semakin jauh adaku dengan seluruh kebenaran-Mu.
Sucikanlah kakiku ini ya Allah dari niat, langkah, dan tujuan hidup kapitalisme dan sosialisme-komunisme yang hari ini telah meluluhlantahkan sendi-sendi peradaban kehidupan umat manusia!
Sucikanlah selalu langkahku ini dengan selalu menjadikan Islam sebagai ideologi kehidupanku!
Dengan kesucian langkahku atas kehendakMu, aku bisa menjalani kehidupan sesuai dengan akidah dan syariat yang telah Engkau titipkan pada al-Qur’an dan hadits, dan telah diperjuangkan oleh Rasul-Mu, Khulafaurasyidin, Umayah, Abbasiyah, sampai jatuhnya Turki Utsmani—yang mana mereka semua telah mampu memberi kesejahtraan dan kebahagiaan dalam seluruh aspek kehidupan.
Tidaklah mungkin wudhuku ini bisa memberi kesadaran tiada henti bahwa hanya kebenaran-Mu yang akan aku pegang teguh dalam menjalani kehidupan ini, jika wudhuku tidak diakhiri dengan kesaksian hatiku bahwa hanya Engkaulah Tuhanku semata, Engkaulah sandaran hidupku semata, dan Engkaulah tujuan akhir hidupku.
Hatiku pun harus bersaksi juga, bahwa Muhammad Rasulullah saw benar-benar sebagai utusan-Mu agar hidup yang aku jalani sempurna menjalani segala titah Engkau dan Rasul-Mu.
Tanpa kesaksian yang yakin sepenuh hati, dan dapat diterima akalku dari makna syahadatku ini, pastilah tangan, mulut, wajah, kepala, telinga, dan kakiku akan tetap dininabobokan rayuan dan tipu daya dunia, yang selalu menawarkan kenikmatan padahal penderitaan dan menganggap penderitaan padahal kenikmatan.
Itulah tipu daya kenikmatan dunia—menganggap kenikmatan akhirat sesuatu yang khayali, dan menganggap kenikmatan dunia sesuatu yang abadi. Harus aku yakini bahwa hanya petunjukMu dan RasulMu yang bisa memapah jalan kehidupanku hingga bisa selamat dunia dan akhirat. Tamat.