Ya Allah, jauhkanlah kesadaranku dari belenggu menyadari kesalahan, namun tetap istiqamah berbuat kesalahan dengan sadar.
Ya Allah, hentikanlah aku berharap pada angin ketika aku hampir mati menggigil kedinginan mengemis pada matahari!
Hentikanlah aku berharap pada matahari ketika aku berjalan ditemani siang meminta-minta pada awan!
Hentikanlah aku berharap pada awan ketika aku hanya bisa berdiam bersama gelap malam memohon pada bulan!
Hentikanlah aku berharap pada bulan ketika aku telah lewati malam memuja pada bintang!
Hentikanlah aku berharap pada bintang ketika aku mengetahui mataku sudah bisa melihat dunia!
Ya Allah, adakah adaku di sisi-Mu saat ini? Ketika satu persatu ketulusan hidupku berguguran seiring musim kehidupan yang selalu minta perubahan pada diri, yang saat ini mulai rapuh mengikat asma-Mu dalam nafas hidupku.
Entah dari mana aku mengurai kembali benang-benang iman yang semerawut karena lalai hidupku, karena bisikan syetan, dan karena kelupaanku pada-Mu.
Tidaklah aku hendak menyalahkan musim kehidupan. Namun tanpa aku sadar, penindasan musim terus memaksa iman meninggalkan kebenaran-Mu.
Akhirnya kenyataan pun meniduri ketidakbermaknaan keringat hidupku yang kini bercampur debu kehinaan dan air mata sesalku, dalam nafas hampaku mengharap ampunan dan pertolongan-Mu.
Ya Allah, kadang pergantian musim sering kali tak mampu menyadarkan ingatanku dari musim yang satu ke musim yang lain. Betapa tidak, musim yang aku lalui kadang hanya mampu dirasakan namun sulit untuk dihadirkan dalam kesadaran hidupku.
Musim semi begitu saja berlalu sampai datang musim panas. Dari musim panas beranjak ke musim dingin. Dari musim dingin menuju musim hujan.
Semuanya terus berganti bertukar kemasan, namun tetap kenyataanku selalu diartikan dengan rasa, tanpa mau mengembalikan kesadaranku pada hari kemarin mencari hari esok.
Betapa tidak, kala aku meniduri kemarau, kekurangan air, tanaman dan pepohonan yang kering, serta tanah yang kering yang terbelah, aku rasakan sebagai belenggu musim yang dialami.
Begitu juga sebaliknya, kala hujan menghampiri, banjir di sana sini, tanah longsor meratakan rumah-rumah, jalanan becek, jemuran yang tak kunjung kering, dan perjalanan yang selalu terhambat karena air hujan meluber ke jalanan—semua itu menjadi topik ketidakpuasanku menerima musim yang selalu silih berganti.
Kemarau tiba, tukang es bahagia. Pak tani menangis saat musim kering melanda tanamannya. Kala hujan tiba, rumput-rumput yang kering berganti hijau rindang bersuka cita, namun bintang-bintang di langit merasa sedih pilu dibalik awan.
Ya Allah, itulah kenyataanku yang mampu dicumbu oleh rasa, tapi pikirku lupa dan kebermaknaanku tak kunjung tiba di balik perasaan yang selalu dianggap menyudutkanku dari kenyataan atau dianggap bersahabat dengan kenyataan diantara musim-musim yang selalu berganti yang aku alami.
Akhirnya kemenangan mimpiku hanya diartikan dua kesebalasan. Yang satu tertawa karena menang dan yang satunya lagi menangis karan kalah. Namun jarang aku artikan tawa adalah ujian, begitu juga tangispun hakekatnya sama. Bukankah musibah adalah wujud lain dari kasih sayang-Mu agar bisa menghadirkan sabar, dan rahmat-Mu adalah kasih sayang-Mu yang harus selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur kepada-Mu? Wallaahu a’lam. Tamat