Menu Tutup

Perjalanan Iman, Antara Syukur dan Sabar (Bagian Satu)

Ya Allah, imanku baru dalam harap. Wajarlah, sampai detik ini, hadir-Mu baru dalam ritual pengabdianku. Namun belum hadir dalam gedung rakyat, istana Negara, gedung kejaksaan, gedung pengadilan, markas besar Polri dan TNI, atau di setiap sudut rumah negeriku.

Ya Allah, ketika sadarku tiba, ternyata Kau tak kemana-mana. Kau ada di mana-mana. Kau lebih dekat dengan urat leherku. Hanya keakuankulah yang menjadikanku tak ada dalam hadir-Mu, dan menjadikan-Mu hilang  ketika aku angkuh dalam hidupku.

Ya Allah, kasih-Mu membuatku lupa diri, dan sayang-Mu membuatku hilang arti. Betapa tidak, syukurku hilang tak berjejak ketika adaku tak menjadikan hadir-Mu saat sakitku Kau sembuhkan; saat laparku Kau kenyangkan; saat hausku Kau hilangkan; saat sulitku Kau mudahkan; saat sempitku Kau lapangkan; saat butuhku Kau penuhi; saat sedihku Kau gembirakan; dan saat lupaku pada-Mu, Kau tetap tak henti beri kasih atas kejahilan dan kehinaanku di hadap-Mu.

Ya Allah, masih adakah kesempatanku untuk bersyukur pada-Mu? Jika masih terbuka ampunan-Mu, terimalah rasa syukurku ini meski apa yang hendak aku panjatkan mungkin belum sempurna, sesempurna Rasul-rasul-Mu, orang-orang soleh, orang-orang mukmin, siddiqin, syahidin, dan  para wali-Mu. 

Sebab aku sadar, syukurku baru sampai pada pikir, yang hanya baru sampai sebuah keyakinan, bahwa hanya aturan hidup-Mu lah yang mesti aku ikuti dalam kondisi dan situasi apapun. Rasa syukurku baru sampai menyadari untuk kembali mengikuti kebenaran-Mu dari niat, ucap, dan tingkah laku hidupku 

Ya Allah, syukurku baru sampai memahami kehendak dan harap aturan-Mu dengan cara memalingkan segala keinginan hidupku yang tidak Engkau ridhoi. 

Syukurku baru sampai mengerti makna patuh dan taat pada seluruh kebenaran firman-Mu dan aku kufur terhadap segala aturan hidup dari mulai aturan pribadi sampai aturan masyarakat dan Negara yang bukan bersumber dari firman-Mu. 

Dan makna syukurku baru sampai menyadari bahwa aku harus tahu diri makna kasih sayang-Mu yang aku terima harus paralel dengan mengikuti segala kehandak-Mu dalam mewujudkan rasa syukurku ini yang baru basa-basi.