Menu Tutup

Kebohongan

Secara fitrah, tak ada satupun manusia yang senang dibohongi. Artinya secara fitrah, manusia itu jujur.

Saat menjalani kehidupan, fitrah yang tidak suka dibohongi dan kecenderungan cinta pada kejujuran, secara sunnatullah mulai berperang.

Ada yang teguh memegang kejujuran, ada yang mulai belajar berbohong, ada yang membiasakan berbohong, ada yang kadang jujur dan kadang bohong, dan ada juga yang menjadikan kebohongan sebagai “kebutuhan” hidupnya.

Siapa yang berpegang teguh pada kejujuran, ia akan selamat. Siapa yamg menjadikan kebohongan sebagai “modal” menjalani kehidupan, ia pasti celaka dan rugi.

Siapa yang kadang jujur dan kadang bohong, ada kemungkinan menjadi pembohong, atau juga kemungkinan menjadi orang jujur, tergantung keyakinan imannya dan lingkungan yang membentuknya.

Bagaimana seharusnya mengawali untuk mengenal makna bohong, sampai kita mampu untuk menjauhi kebohongan selama hidup di dunia?

Bohong secara sederhana adalah upaya menipu diri, orang lain, dan Allah SWT. Menipu di sini memilki makna memanipulasi fakta sebenarnya dengan fakta palsu karena ada kepentingan pragmatis, karena keterpaksaan, atau faktor lain yang membuat seseorang berbohong.

Bohong dalam Islam adalah salah satu ciri sifat munafik. Bohong dalam hadits digambarkan sebagai sifat yang akan menyeret dirinya pada perbuatan buruk dan akan mengantarkan pada neraka.

Intinya, bohong merupakan salah satu dosa besar yang akan merugikan pelakunya dalam kehidupan dunia dan akhirat.