Aku ini orang bodoh. Aku sadar aku masih banyak kekurangan dan kelemahan dalam segala hal. Karena aku nisbi dan banyak kekurangan informasi, pengalaman, dan pemahaman tentang aspek hidup dan kehidupan.
Pada saat itulah aku tidak berhenti untuk terus menanamkan pada diri sebagai pembelajar. Aku terus belajar, belajar, dan tak henti belajar agar aku bisa terus mengurangi berbagai kebodohanku, kelemahanku, dan kekuranganku.
Alhamdulillah, setelah aku selalu merasa bodoh, lalu aku selalu menyadari kebodohanku, aku semakin sadar, bahwa kalau kehidupanku selalu ingin berada dalam petunjuk dan pertolongan Allah itu akan berpihak kepadaku, pada saat aku harus terus belajar pada siapa pun dan dalam kondisi apapun untuk selalu bertujuan memperbaiki kepribadianku, keimananku, pergaulanku, dan segala hal yang aku perlukan untuk menjalani kehidupan agar sampai pada keridhoan dan mendapat pahala dari Allah SWT.
Aku sadar, aku bukan orang yang alim, soleh, dan memiliki akhlak yang mulia. Karena kesadaranku inilah, aku selalu berusaha untuk terus menyemangati diri sendiri agar aku tidak boleh memelihara sikap dan sifat yang dapat mengancurkan kehidupanku di dunia dan akhirat. Sifat dan sikap seperti itu tiada lain adalah kesombongan. Kesombonganlah yang akan mengancurkan kehidupanku.
Sombong itu secara sederhana adalah sikap dan sifat untuk selalu menolak kebenaran dan selalu merendahkan orang lain.
Sungguh aku selalu berusaha berlindung dari sifat sombong. Karena aku yakin, selama aku memelihara sifat sombong dalam menjalani hubungan dengan Allah, sesama, dan diri sendiri, selama itu aku tidak akan pernah mendapatkan petunjuk, pertolongan, kebahagiaan, dan karunia ilmu yang bermanfaat dari Allah SWT.
Sebab, mustahil aku akan menjadi orang yang alim, soleh, dan memiliki akhlak yang mulia, jika aku masih memelihara kesombongan. Baik kesombongan itu yang nampak atau yang tersembunyi.
Kesombongan adalah salah satu sifat yang paling buruk dan mematikan bagi kehidupan manusia. Karena sombong itu adalah sifatnya iblis.
Bagaimana iblis dikutuk oleh Allah sebagai penghuni neraka yang abadi. Semua itu terjadi karena sifat sombong iblis untuk menerima kebenaran Allah (perintah untuk sujud pada Adam as) dan merendahkan Adam as, yang menurut iblis kedudukan Adam as lebih rendah dari iblis.
Iblis menganggap Adam as lebih rendah dari iblis karena Adam as diciptakan dari tanah, sementara iblis diciptakan dari api.
Jika aku masih memelihara sikap untuk selalu menolak kebenaran dari yang membawa kebenaran, dan aku selalu merendahkan harga diri dan kehormatan orang lain, dengan selalu mengukur orang lain itu lebih rendah derajatnya dari pada diriku, baik itu dengan ukuran ilmu, kesolehan, keimanan, kekayaan, jabatan, atau ukuran-ukuran duniawi lainnya, sungguh selama itu pula, aku tidak akan pernah menjadi pribadi dan hamba yang dicintai dan ditolong oleh Allah SWT.
Jika Allah tidak pernah mau menolong dan memberi petunjuk kepadaku karena kesombongan hidupku, lantas masihkah aku akan tetap mempertahankan kesombongan dalam menjalani kehdiupan?
Dan apakah mungkin aku akan selamat, bahagia, dan mendapat ridho Allah, di dunia dan akhirat, sementara aku masih memuja kesombongan yang nampak atau yang tersembunyi dalam menjalani kehidupan?
Lebih baik aku selalu menyadari akan kebodohan dan kekurangan hidupku, sambil tiada henti berusaha memperbaiki dan mengubah sedikit demi sedikit kekurangan dan kebodohan hidupku, daripada aku selalu merasa pintar dan banyak kelebihan, tapi aku tidak pernah sadar untuk terus berusaha memperbaiki diri, dan menjadi seorang pembelajar selama hidupku, kecuali aku berhenti jadi pembelajar saat ajalku tiba.
Begitu juga aku tidak akan pernah mendapatkan petunjuk dan pertolongan dari Allah, selama aku masih setia terhadap kesombongan hidupku yang selalu aku jadikan kekuatan sumber kekuasaan dalam menjalani kehidupanku.
Sebab, selama aku memlihara kesombongan, selama itu pula aku tidak akan pernah mau belajar dan terus belajar; aku tidak akan pernah memiliki kesadaran untuk terus memperbaiki diri dan menyadari kekurangan diri; aku tidak akan pernah mau menerima kebenaran dari luar diriku; dan aku akan selalu merendahkan dan menganggap rendah luar diriku.
Semua itu disebabkan oleh satu hal, yaitu karena aku masih bangga, dan aku tidak sadar memelihara kesombongan dalam menjalani kehidupanku sehari-hari. Aku selalu melupakan bahwa diriku adalah orang yang bodoh, kurang, lemah, dan banyak salah yang meniscayakan diriku untuk terus memperbaiki diri dan menjadi pembelajar sejati. Naudzu billaahi min dzaalika. Wallahu a’lam.