Pernahkah kita dengar, orang yang pacaran menjadikan mereka hidupnya lebih dekat dan semakin cinta kepada Allah; lebih semangat berdakwah; lebih gairah dalam menuntut ilmu; semakin peka terhadap nasib umat dan agama; ibadah fardhu dan sunnatnya lebih khusu dan ikhlas; semakin besar perhatian hidupnya untuk memperjuangkan agama; kepada orang tua semakin besar jiwa baktinya; pada teman dan sahabatnya lebih perhatian dan semakin besar jiwa sosialnya; dan semakin benci pada kemaksiatan dan dosa?
Adakah semua itu dimiliki oleh muda-mudi yang bercinta atas nama pacaran, taaruf, atau apapun namanya?
Hanyalah para pembohong kelas wahid yang mengatakan bahwa pacaran bisa memberi efek positif bagi kehidupan mereka, dan bisa memberi manfaat pada mereka yang akan mengantarkan mereka pada surga dan ridho Allah.
Kalaupun itu ada, semuanya hanya bisa didapat, ketika pacaran itu dilakukan setelah pernikahan–cinta yang mereka berikan hanya semata-mata karena cinta mereka kepada Allah–dan cinta mereka hanya diikat oleh hukum syara, bukan landasan hawa nafsu dan syahwat semata.
Jadi, masihkah kita tetap tertipu dengan kepalsuan cinta atas nama pacaran; kita masih meyakini kedustaan cinta palsu pacaran yang selalu kita justifikasi atas nama cinta dan kebenaran; dan masihkah kita membohongi diri sendiri bahwa pacaran tidak akan pernah menjadikan kita mendapatkan ridho Allah?
Bukankah ridho Allah itu akan kita dapatkan ketika kita taat dan tunduk pada seluruh syariat-Nya?
Apakah mungkin Allah meridhoi kita berpacaran, sementara pacaran itu sendiri adalah perbuatan yang melaksanakan larangan Allah dan meninggalkan perintah-Nya?
Tidakkah kita tahu, Allah itu akan memberikan pasangan hidup bagi kita sesuai dengan keberadaan diri kita?
Allah akan pasangkan laki-laki pezina dengan perempuan pezina. Begitu juga Allah akan pasangkan laki-laki mukmin dengan perempuan yang mukminah. Dan begitulah seterusnya.
Tidak ada seorang manusia pun yang menginginkan pasangan hidupnya adalah orang yang jahat, pendusta, yang suka bermaksiat, hobi berbuat dosa, suka berzina, dan cinta pada segala keburukan.
Sebejat dan seburuk apapun seseorang, pasti ia menginginkan pasangan hidupnya adalah orang baik dan terbaik menurut pandangannya.
Jika itu adalah fakta yang dimiliki setiap orang, lantas masihkah kita berharap cinta hanya disalurkan pada sesuatu yang diharamkan Allah (salah satunya adalah pacaran)?
Belum tibakah saatnya kita keluar dari jerat-jerat setan yang namanya pacaran, jika kita masih yakin pada Allah dan hari penghisaban? Wallaahu a’lam