Saat aku menyimpan senyummu di ruang nalarku, rasaku iri pada fakta cintamu yang tak sampai pada keyakinan utuh.
Kadang kau beri aku sisa cinta, yang kau taburkan di pinggir jalan, sehingga rinduku malu memungut sayangmu.
Di lain waktu, kau berikan cinta dua pertiga rasamu, yang telah kau kurangi sepertiganya dengan malam gelap kesadaranmu menatap hari esok.
Akhirnya, yakin cintamu tak pernah menginjak bumi dan menembus langit, untuk bersua denganNya tentang cerita cintamu dan cintaku. Cinta kita yang sering memperbanyak rasa, mengurangi nalar, dan menjadikan sadar selalu defisit menerima kebenaranNya dalam luka, dalam nestapa cinta kita.