Tak terlalu asa usia terus bertambah. Semakin bertambah, semakin berkuranglah jatah umur.
Namun sering diri merasa masih muda. Ketika diri merasa masih muda, itu tanda betahnya diri hidup di dunia, dan merasa di dunia ini tidak akan ada akhirnya.
Padahal kematian terus mendekat. Terus dan terus sampai habis jatah umur karena tibanya ajal menjemput diri.
Baru diri sadar, ketika kematian tiba. Terbayang semua sesalan hidup. Mengapa dulu tak menghabiskan usia hanya di isi dengan mengabdi kepadaNya.
Mengapa masa muda tidak di isi dengan menanam segala kebaikan untuk dunia dan akhirat?
Mengapa selama hidup tidak mencari harta dengan selalu kembali pada aturanNya, dan tidak membelanjakan harta kecuali hanya untuk kepentingan umat, agama, dan segala hal yang akan mendapatkan ridho dan pahala-Nya?
Dan mengapa usia tak dihabiskan hanya untuk menempuh jalan-jalan kebenaran dengan tiada henti mencari ilmuNya, dan menjadikan ilmuNya sebagai penggerak aktivitas kehidupan?
Sungguh tiada guna menyesali sesuatu yang telah terjadi. Jika hari ini nyatanya masih diberi kesempatan untuk mengisi sisa usia dengan segala sesuatu yang akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan hidup dunia dan akhirat.
Sudah sepantasnyalah merenungi nasihat Rasul saw. tentang usia, masa muda, harta, dan ilmu yang dimiliki.
Ya Allah, mungkin kataku tak setulus RasulMu; hatiku tak seputih salju; dan pikirku tak sejernih mata air. Namun, harapku padaMu masih tersisa seluas langit dan bumi; pintaku setinggi langit paling tinggi; dan citaku sebesar ampunanMu yang tak berbatas.
Izinkanlah diriku yang hina dan bebal ini merayu kasihMu dan mengemis sayangMu agar Kau berikan padaku yang kini berada dalam kehampaan iman, kekeringan pemahaman, dan kegersangan kesadaran memaknai usiaku, masa mudaku, hartaku, dan ilmuku.
Ketika Engkau ingatkanku tentang jatah umur yang Kau berikan padaku, untuk apa umurku aku habiskan, maka habiskanlah umurku hanya untuk mengabdi padaMu, bukan untuk mengabdi pada selainMu!
Tidaklah mungkin aku bisa mengabdi padaMu, tanpa aku memahami segala perintah dan laranganMu.
Dan tidak mungkin aku bisa melaksanakan perintah dan laranganMu, jika aku tak punya kekuatan iman yang utuh kepadaMu.
Maka cukuplah pintaku padaMu, Engkau berikan cahaya kebenaran ilmuMu pada pemahamanku!
Berikanlah kekuatan pada imanku untuk bisa berkeringat tiada henti menjalankan segala perintahMu dan menjauhi segala laranganMu hanya berharap pahala dan ridhoMu!
Ketika Engkau ingatkanku tentang masa mudaku aku habiskan untuk apa, maka habiskanlah masa mudaku yang masih tersisa ini hanya untuk menjadi pejuang agamaMu!
Tidaklah mungkin aku bisa habiskan masa mudaku hanya untuk memperjuangkan agamaMu, jika masa mudaku selalu terpaut cinta pada harta, tahta, dan rupa.
Karena itulah, aku memohon sehabis permohonan, ceraikanlah aku mencintai dunia, dan nikahkanlah aku dengan dakwah dan jihad sampai mati menjemputku!
Mustahil aku bisa habiskan masa muda hanya untuk jadi pembela agamaMu kalau cintaku padaMu masih terbagi untuk dunia.
Ketika Engkau ingatkanku tentang harta yang aku miliki dengan cara apa aku mendapatkannya, dan untuk apa harta itu aku belanjakan, maka bimbinglah dan tunjukilah selalu langkah kakiku hanya berdasarkan hukum syaraMu setiap kali aku menjemput rizki-Mu!
Ringankanlah tanganku untuk selalu mengeluarkan harta yang dimiliki hanya untuk kepentingan umat, agama, dan hanya untuk sebatas kebutuhan hidupku, bukan membelanjakan sesuai dengan keinginanku atau membelanjakan hartaku hanya untuk di jalan yang haram!
Dan ketika Engkau ingatkanku terhadap ilmu yang aku miliki, sudahkah aku amalkan sesuai kehendakMu, maka berikanlah aku ilmu yang bermanfaat!
Jadikanlah aku termasuk orang yang paham terhadap agama! Jadikanlah ilmuMu jadi dasar keyakinanku sehingga aku bisa mengetahui yang benar dan mana yang salah!
Jadikanlah ilmu yang Engkau berikan padaku jadi solusi praktis buat kehidupan!
Dan jadikanlah aku menjadi teladan untuk sesama, ketika ilmu yang Engkau berikanaku amalkan, dan ilmu yang aku amalkan aku ajarkan kembali pada yang lain dan menjadi teladan untuk menuju perubahan hakiki, baik untuk individu, keluarga, masyarkat, dan Negara! Ketika ilmu itu hanya untuk mengubah sistem kehidupan dari penghambaan pada sesama menuju penghambaan hanya kepadaMu. Mustahil penghambaan seluruh manusia hanya akan tertuju padaMu, selama sistem demokrasi belum berganti menjadi sistem Islam yang berlandaskan hanya pada akidah Islam–sistem khilafah Islam.
Kabulkanlah seluruh pintaku ini ya Allah, dan ampunilah atas segala dosa dan salahku selama ini! Aamiin.
Dalam Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ.
“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi RabbNya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, jilid 10, hal 8, no. 9772 dan Hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 946)