Menu Tutup

Menjadi Kaya atau Menjauhi Miskin Bukan Tujuan Hidup Manusia

Ketika hidup miskin, harapan dan cita ingin jadi orang kaya. Ketika cita terwujud jadi orang kaya, hidup kembali terasa kurang. Ketika hidup terus merasa kurang, hakekatnya kita kembali miskin. Dan ketika hidup selalu merasa kurang dan tidak pernah puas, itu artinya dunia telah menjadi tuhannya.

Ketika dunia telah menjadi tuhan bagi kehidupannya, maka dia tidak akan pernah bisa memahami dan menjalani makna sabar dan syukur. Ketika miskin harta dia mengeluh. Ketika sudah kaya harta dia berambisi untuk menumpuk-numpuknya seolah dia belum punya apa-apa.

Ketika itu terus berjalan tanpa iman, karena jiwa telah dikuasai hawa nafsu setan dunia, tak terasa usiapun terus berkurang, akhirnya tibalah saatnya ajal. Baru dia sadar, bahwa mereasa miskin saat tiada harta adalah karena sebab tidak pernah mau merasa bahwa Allah Maha Kaya.

Namun, ketika dia sudah merasa kaya oleh harta, maka dia semakin lupa dan tidak sadar, bahwa dirinya mahluk papa dan hina yang tidak memiliki apapun yang ada di dunia ini, karena semuanya adalah hanya milik Allah semata.

Ketika dia mati, baru dia menyesal bahwa hidup di dunia bukan untuk membebaskan diri dari kemiskinan harta dan kehormatan, dan hidup di dunia bukan untuk menumpuk-numpuk harta dan saling bermegah-megahan dengan harta dan kekuasaan dengan penuh kesombongan.

Ternyata hidup di dunia ini hanya untuk menguji, akal yang telah Allah karuniakan sebagai keistimewaan yang Allah berikan pada manusia, yang tidak Allah berikan pada mahluk hidup lainnya, manusia pergunakan hanya untuk memaknai dan menjalani hidup penuh dengan ketundukkan pada segala firmanNya.

Ketika Allah menjelaskan bahwa kaya dan miskin manusia itu urusanNya sendiri, maka manusia yang berakal tidak akan lagi memikirkan apakah dirinya miskin atau kaya. Tapi dia hanya akan memikirkan firman Allah yang mewajibkan manusia untuk mencari bagian kehidupan dan kenikmatan dunia hanya untuk bekal dalam proses menjadi hamba yang benar-benar bisa keluar sebagai hamba yang soleh dan ikhlas.

Itulah sebenarnya yang harus menjadi fokus kesadaran manusia ketika di hadapkan pada persoalan kaya dan miskin, iman dan amal soleh.

Simpulannya, bahwa kaya misikinnya manusia, bukan urusan manusia. Yang menjadi urusan manusia di dunia adalah menjadikan akal manusia digunakan untuk mencari sebagian karunia Allah sebagai wasilah mengabdi hanya padaNya, bukan sebagai tujuan mengabdi pada harta dunia. Wallaahu a’lam