Kebahagiaan dan kesuksesan itu adalah konsekuensi dari pilihan sebuah keyakinan yang diwujudkan dengan perbuatan.
Sementara keyakinan itu sebuah syarat mendasar dalam menjalani kehidupan agar memiliki arah dan tujuan.
Dari keyakinan inilah akan terlihat seperti apa corak kehidupan yang akan dijalaninya. Dan corak kehidupan ini akan memberikan makna kebahagiaan dan kesukesan yang menjadi tujuan hidupnya.
Jika kebahagiaan dan kesuksesan diartikan segala sesuatu yang bersifat kasat mata, entah itu harta, tahta, ataupun rupa, artinya keyakinan yang dimiliki lahir dari kepercayaan bahwa segala kenikmatan dunia tadi adalah sebagai harga mati sebuah tujuan hidup.
Seiring dengan berjalannya keyakinan tadi, hari-hari yang akan dijalaninya adalah aktifitas yang mencerminkan tingkah laku yang serba material. Dari mulai bangun tidur, dia akan memikirkan tentang target hari ini.
Bagi seorang pekerja dia akan memikirkan tambahan gaji. Bagi seorang pelajar dia akan memikirkan bagaimana mendapatkan nilai raport tertinggi. Bagi seorang ibu rumah tangga dia akan memikirkan makanan yang lezat, pernak-pernik perabotan rumah tangga, dan segala pengaturan rumah tangga yang hanya berorientasi material.
Singkatnya, ketika mereka mendapatkan segala keinginan material, maka mereka akan mengatakan inilah kebahagiaan dan inilah kesuksesan.
Berbeda dengan orang yang memiliki keyakinan bahwa hidup di dunia itu
bukan untuk mendapatkan kebahagiaan dan kesuksesan, tapi untuk menjadi hamba Allah yang taat dan soleh.
Keyakinannya ini akan memberikan gambaran kehidupan yang mereka jalani sehari-hari, dengan selalu didasari keimanan dan ketaatan terhadap segala aturan Allah SWT.
Meskipun aktifitasnya tidak jauh berbeda dengan mereka-mereka yang berorientasi pada dunia.
Dia sama bekerja, dia juga sekolah, dia juga makan, dia beli perabotan rumah tangga, dan dia juga hidup normal sebagaimana yang dijalani oleh para pemuja dunia.
Yang membedakannya cuma satu, orang yang memiliki keyakinan bahwa hidup di dunia ini adalah untuk ibadah dalam arti yang seluas-luasnya.
Ia menjalani hidup bukan hanya untuk makan, menikah, punya rumah, punya mobil, dsb, tapi dia sadar betul, bahwa semua yang dimiliki di dunia ini hanyalah titipan dan amanah yang akan dimintai tanggung jawab kelak di akhirat.
Karena itulah, dia menjadikan dunia hanya dalam genggaman tangannya, sementara keimanannya kepada Allah menjadi ruh dalam segala aktifitas kehidupannya sehari-hari.
Sementara yang punya keyakinan bahwa tujuan hidup di dunia adalah untuk mendapatkan segala kenikmatan dunia (meskipun kadang terlintas adanya keyakinan kehidupan akhirat), dia tiada henti mengejar dunia tanpa lagi memperhatikan aturan-aturan Allah.
Itulah gambaran singkat makna bahagia dan kesuksesan bukanlah sebagai tujuan hidup di dunia. Tapi yang sebenarnya menjadi tujuan hidup di dunia itu hanyalah untuk ibadah, tunduk dan patuh hanya kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Sementara kebahagiaan dan kesuksesan hanyalah konsekuensi dari tujuan hidup yang kita miliki. Wallahu a’lam