Kekayaanku ada dalam kemiskinanku, ketika rasa syukur selalu tercurah pada-Nya, dan ketika iman kepada qadha-Nya dipegang teguh selama napas berhembus.
Kemiskinanku ada dalam kekayaanku, ketika aku tak menghadirkan syukur dan puas terhadap segala ketentuan-Nya, setiap kali aku mendapat rizki dari-Nya.
Ketika aku butuh sesuatu, berarti, aku tidak punya sesuatu. Lalu rasa butuh itu hanya digantungkan pada Allah. Ketika Allah memberi apa yang aku butuhkan, aku bersyukur. Ketika Allah menahan apa yang aku butuhkan, aku bersabar. Dan itulah makna kekayaanku ada dalam kemiskinanku.
Ketika kebutuhanku telah Allah penuhi, tapi aku selalu menginginkan sesuatu yang belum aku dapatkan, tanpa sedikitpun ada rasa syukur dalam diriku, maka saat itulah aku berada dalam kemiskinan, meski lahiriahku dipenuhi kekayaan.
Jika kekayaan dan kemiskinan hanya diartikan hal yang material, begitu juga kekayaan dan kemiskinan tidak pernah di ikat oleh iman kepada Qadha-Nya, selama itu pula aku tetap ada dalam kemiskinan.
Tinggal aku pilih, apakah aku ingin menjadi orang miskin yang selalu bersyukur? Ataukah menjadi orang kaya yang selalu bersyukur? Atau menjadi orang kaya yang tidak bersyukur? Dan ataukah menjadi orang miskin yang tidak bersyukur?
Ya Allah, jadikanlah kaya atau miskinku tetap berada dalam ketundukan dan ketaatan atas segala sesuatu yang Engkau dan Rasul-Mu kehendaki!
Jika Engkau beri aku amanah berupa kekayaan, maka teguhkanlah keyakinan hidupku bahwa harta yang aku miliki hakekatnya hanyalah titipan yang harus aku pergunakan hanya untuk mengharapkan pahala dan ridho-Mu semata!
Berilah padaku keyakinan, bahwa ketika aku mengeluarkan harta untuk dibelanjakan hanya di jalan-Mu, maka pasti Engkau akan menggantinya dengan pahala yang berlimpah! Semakin aku banyak memberi, semakin banyak aku menerima.
Dan jauhkanlah aku dari sifat kikir, pelit dan sifat egois dari harta yang aku miliki! Sebab, jika semua itu ada pada diriku, sungguh hakekatnya aku telah membangun dan melanggengkan kebangkrutan, kemiskinan, kesengsaraan dan kemelaratan di dunia, serta aku telah mempersiapkan neraka sebagai tempat tinggalku kelak di akhirat. Karena aku tak mau mengeluarkan sebagian hartaku untuk dibelenjakan di jalan dakwah dan jihad. Naudzubillaah.
Jika aku miskin dari harta, maka kayakanlah imanku untuk selalu memberi kebaikan, kejujuran dan kebenaran di setiap hela nafas hidupku, baik aku dalam keadaan sempit atau lapang; dalam keadaan sakit atau sehat; dalam keadaan kuat atau lemah; dan dalam keadaan muda atau tua!
Ya Allah, cukupkanlah dan yakinkanlah selalu dalam kehidupanku dan selama hidupku, hanya Engkau yang menjadi sumber dan sebab datangnya rizkiku! Adapun usaha yang aku kerjakan untuk menjemput rizki-Mu, maka itu adalah kewajibanku yang harus selalu aku memperhatikan hukum sebab akibat; aku selalu menyadari dan selalu menghadirkan syariat-Mu setiap aku berusaha mencari rizki; aku selalu menghadirkan sikap tawakal pada saat sebelum, ketika, dan setelah bekerja dalam menjemput rizki-Mu; dan aku selalu bersyukur saat aku mendapatkan rizki-Mu serta selalu bersabar ketika Engkau belum karuniakan rizki untukku
Aamiin. Wallaahu a’lam