Kebijaksanaan sering kali didapat ketika ucap kita diikat oleh iman. Yang jadi ukuran adalah benar dan salah. Sehingga yang terucap hanyalah kebenaran-Nya. Jika tak mampu bicara yang baik, diam adalah yang terbaik.
Dengan tak henti berdzikir dan berpikir mencari segala hal apa yang belum diketahuinya, dan menelusuri segala hal apa yang telah diketahuinya, hanya dengan satu keyakinan, semua pencarian hanya untuk perubahan diri dan luar diri dengan hanya menggunakan kebenaran-Nya.
Kekhusuan seringkali didapat ketika mata selalu terjaga dari segala apa yang membuat Allah murka. Tak jarang ma’rifat-Nya semakin membumbungkan iman; semakin ringan berkorban; semakin mudah mewujudkan harapan; dan semakin tenteram menjalani kehidupan ketika lirikan mata jalang berganti tatapan-tatapan matang hanya karena Allah Sang Maha pemusnah segala bimbang.
Seringkali ketika banyak menahan rasa lapar, hidup yang susah terasa datar. Makan, minum, dan udara yang masuk pada badan penuh dengan keadilan. Jika itu yang selalu dilakukan, dengan selalu menjauhi segala keharaman, dan hanya memasukan segala hal yang halalan thayyiban. Begitu ringan menjalankan perintah-Nya. Begitu mudah menjauhi larangan-Nya. Yang akhirnya, kelezatan iman menemani hari-hari dalam penghambaan.
Seringkali hanya mencukupkan dengan senyuman, kewibawaan akan jadi hiasan tingkah dan perbuatan. Sebaliknya, jika banyak mengeluarkan tawa untuk hal-hal yang sia-sia,
apalagi yang berbau dosa, jangan harap akan mendapatkan harga di hadapan banyak manusia.
Seringkali senda gurau yang berlebihan membawa pada kesengsaraan dan hilangnya kehormatan di hadapan banyak orang. Mencukupkan gurau tanpa membawa unsur bohong, dan hanya untuk mengambil pelajaran segala hal tentang kebenaran, adalah jalan keselamatan dan akan terjaga kehormatan.
Seringkali hati yang banyak terpaut pada dunia, akhirat di hatinya tak akan pernah ada. Yang ada hanya memuja nikmat yang fana. Sebab hati tak kan pernah memiliki dua cinta. Jika dunia yang dicinta, maka akhirat tak kan ada.
Seringkali ketika sibuk mencari aib orang lain, maka lupa aibnya sendiri. Jangankan hadir meningkatkan perbaikan diri, yang adapun hilang tak terganti. Akhirnya, pikirnya mati untuk merubah diri, karena diri telah gelap menyibukan tak henti mengungkap aib luar diri.
Seringkali jika tak ridho pada takdir, banyak mengantarkan diri jadi orang pandir. Kemunafikan tak di sadari menghuni segala pikir.
Marilah kita belajar pada Umar bin Khatab ra., untuk menjadi pribadi yang luhur dengan merenungi nasihatnya yang agung:
- Kurangi bicara agar mendapat hikmah.
- Jangan berlebihan melihat agar menjadi khusu’.
- Batasi makanan agar mendapat kelezatan ibadah.
- Jangan terlalu banyak tertawa jika ingin memiliki wibawa.
- Jauhi senda gurau berlebihan agar dihormati orang lain.
- Jangan terlalu mencintai dunia agar mampu mencintai akhirat.
- Jauhi meneliti aib orang lain agar aib sendiri diperbaiki.
- Jangan sekali-sekali berburuk sangka terhadap takdir allah agar terhindar dari kemunafikan.