Maafkanlah cintaku yang baru sebatas kata, ketika kau lama menunggu nyata. Sementara, aku di sini hanya bisa mengeja makna, merekatkan saling percaya, dari setiap serpihan hati yang telah bercampur antara luka dan tawa.
Aku malu pada kesetiaanmu untuk tetap di sisiku. Meski hanya luka yang aku taburkan. Bukan permata atau nikmat dunia. Namun, kau tetap bertahan, memanjakan cintaku padamu dengan teguhnya sabarmu atas segala kekurangan diriku.
Terima kasih cintaku. Semoga Allah memberkahi, merahmati, dan meridhoi cinta kita ini, sampai mati, kita tetap ada bersama dalam dakwah melanjutkan kembali kehidupan Islam. Aamiin yaa robbal’alamiin.