Menu Tutup

MEMAHAMI HAKEKAT TELADAN

Ketika Rasulullah saw. dijadikan dasar pemahaman sebagai teladan, bukan manusia yang lain, niscaya kita tidak akan pernah kecewa terhadap orang yang sedang kita jadikan teladan.

Ketika kita menjadikan Rasulullah saw. sebagai satu-satunya teladan, insya Allah kita akan bersikap, berucap, dan bertingkah laku hanya merujuk pada Rasulullah saw. semata dengan landasan iman.

Kita tidak disibukan dengan mencari-cari kelemahan orang lain atau orang yang awalnya kita jadikan teladan. Justru pada akhirnya kitalah sendiri yang akan menjadi teladan sebenarnya karena kita hanya menjadikan Rasulullah saw. sebagai teladan.

Sebaliknya, jika kita menjadikan manusia selain Rasulullah saw. sebagai teladan, kita akan terus dihantui kekecewaan dan kita sendiri akan terjerumus pada lubang kemunafikan, karena kita melakukan sesuatu, atau meninggalkan sesuatu, bukan berdasarkan kesadaran iman untuk menjadikan Rasulullah saw sebagai teladan, tapi justru kita menjadikan manusia yang nisbi dan tidak luput dengan kekurangan dan kesalahan.

Seharusnya setiap muslim menjadikan dirinya masing-masing hanya mencontoh dan meniru Rasulullah saw. dengan kesadaran iman, supaya ketika terjadi hubungan sosial tidak akan melahirkan kekecewaan dan saling melemahkan. Tapi kita akan saling menutupi kekurangan, saling menasehati, saling melengkapi dan saling mengingatkan untuk selalu mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah dan RasulNya, bukan kepada keegoisan dan hawa nafsu setan. wallahu a’lam