Menu Tutup

MEMAHAMI TINGKAH MANUSIA SEKULER DALAM PANDANGAN ALI BIN ABI THALIB (Bagian Dua)

Dalam sistem sekuler, banyak ahli ibadah yang mewarisi kesombongan Iblis. Merasa paling dekat dengan Allah. Yang lain jauh dan tersesat dari jalan Allah.

Menampakkan kesolehan hanya untuk dikatakan orang yang alim dan ahli ibadah. Sementara keimanan yang tulus telah dibelenggu kebodohan dan kesombongan Iblis.

Sungguh sayang seribu kali sayang. Karena sudah merasa dekat dengan Tuhan, dia langgar syariat. Lebih cenderung pada hakekat dengan jalan tarekat untuk utuh meraih ma’rifat. Merasa tak butuh syariat kalau sudah dekat. Sungguh ini adalah jalan yang sesat.

Dalam sistem sekuler, banyak ahli maksiat yang rendah hati bagaikan sufi. Rendah hati yang disalah arti. Dengan bergaya sufi ketika kemaksiatan sudah terbiasa dijalani dan jadi jati diri. Hingga tak merasa ada dosa tak merasa ada salah.

Seperti koruptor yang selalu berbagi menginfakkan hasil korupsi untuk mesjid, anak yatim, pesantren, bahkan naik haji berkali-kali. Dengan sesama selalu rendah hati. Ibadahnya paling tinggi.

Namun sayang seribu kali sayang. Hatinya telah tertutup kebenaran. Karena banyak melanggar aturan Islam. Tapi dia merasa telah banyak berbuat kebaikan dan berjuang penuh keikhlasan hanya untuk Islam. Meskipun riba dibolehkan. Demokrasi dihalalkan. Sistem sekuler dilestarikan. Sungguh keterlaluan.

Dalam sistem sekuler, ada banyak orang yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Hidup dianggapnya hanya untuk mendapatkan kesenangan. Dia hanya mencari segala hal yang bisa membuat nalurinya gembira.

Ketika banyak acara lawakan untuk membuat orang tertawa, tanpa sadar dia lupa hiburan hanya untuk menghilangkan kepenatan. Tapi karena sudah jadi kebiasaan, banyak tawa karena candaan menghilangkan gairah dalam penghambaan. Bahkan melupakan untuk mengingat Tuhan. Akhirnya hatinya berkarat dan keras bagai batu nisan. Puncaknya, sulit dan malas melaksanakan segala ketaatan.

Dalam sistem sekuler, ada banyak yang menangis karena kufur nikmat. Kesedihan hanya dihadirkan saat nikmat duniawi tak didapatkan. Mengutuk diri. Bahkan menyalahkan Tuhan dengan takdir yang tak diharapkan. Selautan kebaikan Allah dilupakan. Tapi satu tetes penderitaan, menanamkan jiwa dendam dan kebencian pada diri, luar diri dan Tuhan.

Sungguh sayang seribu kali sayang. Menyibukkan diri karena kekurangan jiwa, harta, tahta,rupa, dan ketakutan. Tapi melupakan nasib diri di hari pembalasan.

Hidup dihabiskan untuk mendapatkan segala sesuatu yang telah Allah jamin dan tetapkan (misalkan harta, tahta,dan rupa). Namun selalu melupakan hal yang tak pernah Allah jaminkan dan tetapkan (masuk surga dan neraka).

Tapi masih saja dia sibuk menyalahkan Tuhan. Karena dia selalu mengkufurkan segala nikmat Allah yang telah diberikan. Akhirnya hidupnya pun selalu berada dalam penderitaan yang berkepanjangan. Sungguh kasihan.

Dalam sistem sekuler, ada banyak yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Karena keikhlasan dan ketulusan sudahlah jadi barang langka. Maka wajar, senyum yang selalu diberikan karena keterpaksaan dan karena ada kepentingan.

Sungguh sayang seribu kali sayang. Senyum yang terlempar selalu dibarengi kebencian karena telah memelihara kemunafikan. Adalah orang-orang yang menjadikan kebaikan hanya untuk meraih kemanfaatan, bukan karena Allah yang jadi tujuan. Akhirnya segala kebaikan selalu jadi barang dagangan untuk mendaptkan keuntungan kepala, perut, dan kemaluan.