Dalam sistem sekuler, banyak orang yang baik tapi tidak berakal. Selalu berbuat baik, bersikap baik, dan berucap baik. Tapi akal tak mengikatnya. Akal tak digunakannya. Akal tak ditundukkan pada kebenaran Allah. Kebaikannya menjadi bencana.
Mungkin banyak para pejabat yang rajin shalat, tidak pernah ketinggalan zakat, rajin baca Qur’an, selalu melaksanakan puasa wajib dan sunnah, dan pergi haji tiap musim.
Tapi sayang seribu kali sayang. Aturan Allah selalu dicampakkan. Politik berkiblat pada penghalalan segala cara. Ekonomi menghamba pada neo-liberal. Hukum memuja buatan manusia. Kehidupan sosial teguh jalankan kebebasan yang kebablasan. Pendidikan hanya menuju pembentukan pola pikir yang sekuler dan pola sikap yang pragmatis. Sistem pemerintahan tetap menyembah demokrasi yang kufur.
Dalam sistem sekuler, banyak yang berakal tapi tidak beriman. Tidak terhitung jumlah para guru besar, ulama, cendekiawan, dan ilmuwan yang paham kebenaran Islam sampai detil tak berbilang.
Namun sayang seribu kali sayang. Teori dan penemuan tak juga berikan perubahan. Teori politik Islam yang hanya berorientasi mengurus dan memelihara rakyat dengan seluruh hukum Islam tak bisa dijalankan. Mungkin karena takut tidak makan, atau gengsi berjuang, atau karena ditumpangi kepentingan, dan bisa jadi karena ketidaktahuan tentang hakekat politik menurut Islam.
Paham pada kebenaran al-Quran, tapi tak menghadirkan iman. Yang menjadikan para pemilik ilmu Islam cukuplah kebenaran hanya dalam pikiran. Sementara kewajiban mengimani dan melaksanakan kebenaran Islam selalu saja diabaikan dengan dalih berputar dalam nalar dan keilmiahan.
Ilmupun mati sebelum berkembang. Karena tak tahu atau tak mau merealisasikan kebenaran Islam. Itulah akibat berilmu tapi tak beriman.
Dalam sistem sekuler, banyak lidah fasih tapi hati lalai. Ilmunya tajam dan lisannya penuh kekuatan sehingga banyak orang merindukan dari setiap ucap yang dilontarkan.
Namun sayang seribu kali sayang. hatinya tak sefasih lidahnya. Tingkahnya tak sebagus lisannya. Pribadinya tak sebagus ilmunya. Selalu semangat bicara kebenaran. Tapi lalai dan lunglai memperbaiki kepribadian.
Mengajak orang berzakat, dia sendiri enggan berzakat. Maunya diberi zakat. Sungguhlah hatinya telah sekarat. Karena banyak maksiat dibalik lisannya yang selalu menyeru untuk taat.
Dalam sistem sekuler, banyak yang khusu tapi sibuk dalam kesendirian. kesolehan baginya hanya urusan diri sendiri. Tapi tidak pernah mengajak orang lain mendapatkan kesolehan. Dengan dalih yang terkesan benar padahal menyesatkan, “jangankan untuk menjadikan orang lain soleh, diri sendiri pun masih banyak salah”. Padahal di dalamnya tersimpan kesombongan dan kebohongan.
Jika setiap diri meyakini hanya sibuk mengurus diri sendiri, memperbaiki diri sendiri, dan hanya sibuk menyolehkan diri sendiri. Lantas, di mana fungsi agama sebagai nasehat dan dakwah sebagai kewajiabn setiap diri.
Jika itu yang terjadi, maka faktanya, setiap diri sibuk menyelamatkan diri. Sementara kebenaran agama selalu disimpan dilaci dan dalam kesunyian diri.
Sungguh sayang seribu kali sayang. Jika setiap muslim berpikir sempit dan hanya mengurus diri sendiri. Kewajiban amar ma’ruf nahi munkar akhirnya tidak bisa dilaksanakan. Wajar umat Islam berpecah belah dan saling menampakkan keegoisan karena pikirnya sudah diikat kebohongan dan kesombongan yang berbalut kebenaran.