Kemarahan tidak akan pernah menghentikan dan mengubah orang lain agar sesuai dengan kehendak kita, meskipun kita selalu berlindung atas nama kebenaran Islam. Kalau memang benar kita menjadikan hukum syara sebagai standar untuk mengubah orang lain agar sesuai dengan hukum syara, masih banyak cara yang lebih efektif dan berpengaruh, tidak melulu dengan cara marah.
Marah itu dari api. Api itu dari setan. Setan itu sifatnya selalu membakar segala kebaikan yang hendak atau telah kita lakukan. Bukan maksud melarang marah secra mutlak, karena kita pun diajarkan untuk marah karena Allah dan marah yang sesua hukum syara. Tapi marah yang dimaksud adalah marah yang lahir dari naluri al-baqa(naluri eksistensi) yang tidak mau diikat iman dan hukum syara.
Cara yang efektif dan berpengaruh agar orang lain menurut pada kita atau menerima kebenaran yang kita tawarkan, hal sederhana yang bisa kita lakukan adalah menahan ego sebelum memutuskan sesuatu.
Lalu memahami orang lain dengan ukuran pikiran yang lahir dari fakta orang yang kita tilai, bukan ditilai oleh pikiran kita.
Setelah itu jadikan hukum syara sebagai standar unuk memutuskan penilaian pada orang lain.
Setelah langkah-langkah tersebut kita lakukan, serahkan semua kepada Allah. Jika orang lain pada akhirnya tetap tidak mau nurut atau menerima kebenaran kita, jangan sekali-kali kita kecewa atau bahkan kita marah. Karena kekecewaan dan kemarahan itu adalah cermin dari cara berpikir yang jauh dari keikhlasan dan punya pikiran yang sempit, meskipun mungkin kita selalu berdalih ikhlas dan lapang dada.
Jika kita ingin dituruti oleh anak kita; kita ingin dituruti oleh anak-anak didik kita; atau kita ingin ditaati oleh bawahan kita, maka selama kemarahan, ego, dan kita selalu mengukur orang lain sesuai dengan standar pikiran kita, bukan pikiran yang dimiliki oleh orang yang kita tilai, selamanya kita akan tetap berada dalam kesempitan pikiran, keegoisan, dan selalu berakhir kecewa dan menumbuhkan kebencian.
Wajar ketika kita marah terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kebenaran kita. Tapi ingat, orang lain pun sama punya pikiran dan punya standar kebenaran.
Yang seharusnya kita pikirkan adalah bagaimana standar kebenaran, ego masing-masing, dan pikiran masing-masing merujuk pada kebenaran Allah semata.
Jika ternyata kita sudah berusaha menjadikan kebenaran Allah sebagai standar penilaian kepada orang lain, tapi kita tetap memunculkan ekspresi kemarahan atau sikap-sikap yang tidak berkenan di hati orang yang kita tilai, itu artinya, ego kitalah yang masih mendominasi pribadi, perasaan, dan pikiran kita. Meskipun mungkin kita selalu bersembunyi di balik atas nama Islam dan Allah.
Sungguh sangat disayangkan mengapa pikiran kita selalu disibukkan untuk marah, jangan-jangan kita sedang berada dalam krisis haus pengakuan, gila pujian, tamak pada kehormatan.
Mungkin selama ini kita selalu ditipu oleh kebahagiaan semu, yang selalu merasa diri punya segalanya, sehingga selalu ingin ditaati oleh orang lain. Akhirnya, gelap pikiran dan iman kita untuk mau mengerti, mempercayai, dan memahami orang lain dengan ikhlas.
Hal sederhana untuk meminimalisir sifat marah kita adalah dengan cara membiasakan diri berempati secara tulus, menyelami sifat orang lain secara objektif, dan kita selalu mendengar apa yang orang lain pikirkan dan apa yang orang lain inginkan.
Sebab, selama kita tidak mau tahu keberadaan orang lain, baik itu karakternya, keinginanya, pikirannya, dan latar belakang hidupnya, maka selamanya kita akan selalu menilai orang lain sesuai dengan yang kita inginkan, bukan yang Allah kehendaki. Wallaahu a’lam