Menu Tutup

Masih Bersenggama dengan Luka

Ingin rasanya, sekali saja. Aku tertawa karena bahagia, bukan untuk menyembunyikan luka.

Tidakkah aku pantas tersenyum penuh ikhlas, tertawa penuh pengabdian hanya untuk mendapatkan restuNya? Agar ketika aku menangis, senyatanya adalah kebahagiaan. Dan saat aku tertawa, yang sesungguhnya, sebuah keberserahan total hanya untukNya.

Bukan lagi tentang cerita kursi yang tak pernah aku meminta padaNya. Meski aku sering menangis agar Dia beri aku sesuap nasi.

Atau aku sering berharap bisa bercinta karena cinta. Itu semua, aku yakini sebagai kerikil ujian
dan jurang peringatan, agar aku segera kembali
memungut cintaNya, yang lama aku simpan dalam kata-kata. Aku tidak menghidupkan dalam sadarku, dalam tidurku, dalam senggamaku, dalam shalatku, dan dalam aksi menuntut para Firaun modern menanggalkan demokrasi yang primitif.

Atau aku menghidupkan CintaNya saat aku lupa padaNya, secepat cahaya aku ingat kembali padaNya dan hanya untukNya.

Sungguh kisah mentari di atas kepalaku telah lama aku lewati. Namun tak juga aku sadar, bahwa jiwa sudah tua, mentari sudah sembunyi di balik senja menuju gelap malam.

Ah, selalu saja semua bisu. Saat aku ingat, teriakan yang tak henti bertubi-tubi pada para penguasa korup, tak juga menjadikanku ada untukNya. Apalagi mendapat ridhoNya. Semua sadarku telah habis. Sebab, tawaku masih bersenggama dengan luka, tidak dengan bahagia.