Kapan perih dan luka sadarku berganti senyuman tulus menyambut apapun yang diseruNya?
Saat lelah tetap gagah. Saat semangat semakin dekat denganNya. Saat malas tetap merangkak mereguk cintaNya.
Saat miskin semakin yakin akan qadhaNya. Saat kaya semakin mencintaiNya, dan tak henti berbagi pada sesama hanya karenaNya.
Saat terpuruk semakin tunduk padaNya. Saat resah semakin bergairah mendambaNya.
Namun pada saat dalamnya luka jiwa, tertusuk pisau nafsu dan kemunafikan, aku semakin sadar, sadarku mulai sekarat.
Aku harus paksa diri segera tobat sebelum terlambat ampunanNya mendekat, mengikat erat sadarku yang hanya ingin mulia di hadapanNya, ingin biasa-biasa di hadapan sesama, dan hanya ingin selalu hina dalam pandangan diri.