Menu Tutup

Mengobati Intelektual Muslim yang Masih Bangga dengan Pemikiran Barat

Intelektual muslim yang masih percaya demokrasi sebagai wasilah memperjuangkan syariat, adalah intelektual yang kena jebakan peradaban dan tsaqofah Barat, baik posisinya dia sadar, tidak sadar, atau pura-pura tidak tahu. 

Jika dia sadar, lebih tertarik dengan tsaqofah dan peradaban Barat, tapi pada saat bersamaan dia tidak mau melepas keyakinan pada kebenaran Islam, maka sejatinya intelektual muslim seperti ini sudah kehilangan kebanggaan dan keyakinannya pada Islam sebagai agama,  sekaligus sebagai sistem kehidupan yang tidak memerlukan lagi peradaban dan tsaqofah di luar Islam.

Adapun intelektual muslim yang tidak sadar dirinya terkena perangkap dan tipu daya tsaqofah dan peradaban Barat yang kufur, adalah intelektual yang lupa pada kebenaran akidah dan syariat Islam; lupa pada tujuan hidup dunia adalah sebagai tempat mengabdi pada Allah, bukan pada manusia; dan dia lupa pada hari pembalasan bahwa Islam sebagai standar penilaian kelak di akhirat, bukan tsaqofah dan peradaban Barat yang kufur.

Ketiga, intelektual muslim yang pura-pura tidak tahu bahwa dirinya sudah terbelenggu dengan tsaqofah dan peradaban Barat kufur, sejatinya dia telah menjual agamanya demi berbagai kenikmatan dunia yang secuil. Entah itu dia tertipu oleh harta, tahta, atau syahwat dunia lainnya.

Untuk mengobati para intelektual muslim yang sudah terjebak dan bahkan yang kadung memuja tsaqofah dan peradaban Barat, yang hari ini menguasai seluruh aspek kehidupan umat manusia di muka bumi, hemat penulis–satu-satunya obat untuk mereka adalah dengan kembali memahami Islam secara sungguh-sungguh, menyeluruh, dan utuh dengan landasan iman dan berharap ridho dan rahmat Allah semata. 

Selanjutnya, para intelektual muslim harus menyadari, bahwa Islam bukan sekadar ilmu pengetahuan, bukan sekadar nasehat, dan wejangan, serta Islam bukan sekadar ritual dan bersifat pribadi, tetapi Islam adalah agama, sekaligus sebagai sistem kehidupan yang mampu menyelesaikan segala persoalan kehidupan, dan Islam harus menjadi standar menilai perbuatan dalam seluruh aspek kehidupan.

Terakhir, para intelektual muslim harus menyadari bahwa seluruh perbuatan di dunia akan dimintai tanggung jawabnya kelak di akhirat dengan menjadikan Islam sebagai tolok ukur penilaiannya, bukan tsaqofah dan peradaban Barat.

Jika intelektual muslim seperti yang digambarkan di atas, masih tetap menjadikan demokrasi sebagai wasilah untuk menerapkan syariat Islam, tapi dalam kenyataannya, mereka memperjuangkan tsaqofah dan peradaban Barat, maka selamanya intelektual muslim seperti ini akan menjadi penghalang besar demi tegakknya Islam dalam konsep kehidupan, termasuk dalam sistem pemerintahan dan Negara. Wallahu a’lam