Akankah jadi kenangan?
Ratusan purnama
telah lama bersamaku
di ruang hampa.
Aku sering ajarkan
pada kursi tentang pedihnya mengejar kursi,
jika ayat-ayat kursi
hanya untuk meraih kursi.
Tak ada yang berubah
meski banyak kursi-kursi yang mengangguk.
Namun mereka tetap duduk di kursi
tidak mau keluar kelas,
apalagi turun ke sawah
bermain dengan lumpur,
mencangkul dan menanam padi.
Mereka sukanya pakai dasi
pergi ke gedung kaca
yang hari-harinya ditemani AC,
jadi sekrup industri,
jadi mesin kapitalisme
yang keringatnya hanya dihargai
sebatas sebungkus nasi
yang dimakan setiap hari
sampai mati.
Akankah jadi kenangan?
Ratusan purnama
aku ajarkan tentang kehidupan
pada anak-anak agen perubahan
yang faktanya adalah sebatas
merubah nasib diri
hanya untuk mendapat citra dan eksistensi,
yang hanya dibatasi kursi, mersi, dan roti.
Aku tak pandai mengajarkan sejarah
Aku tak pandai mengajarkan al-Quran dan Sunnah
Aku tak pandai ajarkan bagaimana meraih dunia
dengan menjual sejarah Islam pada mereka.
Aku hanya bisa memberi pelajaran
bagaimana menikmati luka menjalani dunia
agar kelak Allah tersenyum
dengan keringat luka yang dikeluarkan
dengan pemurniaan pengabdian
di atas sajadah sekulerisme.
Akankah jadi kenangan?
Ratusan purnama
aku jadi pemberi ilmu untuk mendapatkan ilmu
dari setiap diri yang haus kebenaran,
bukan haus kekuasaan dan kekayaan
Akankah semua jadi kenangan?
Hanya qadhaNya
yang membuat darah lukaku berhenti
saat aku ridho dengan ketetapanNya,
saat aku serius sungguh maknai hari kemarinku,
dan saat aku bangkit, bergerak dan tunduk
lalu bergegas menuju ampunanNya.