Menu Tutup

Ketika Musibah Dimaknai Sebatas Gejala Alam

Masih saja terus berulang
Musibah menimpa negeri yang malang
Ujian, peringatan, atau adzab tak juga iman datang
Merenungi segala tingkah yang begitu saja hilang
Ditelan nafsu yang selalu garang

Oh negeri kaya yang muslimnya dominan
Dari jelata sampai penguasa ngakunya punya iman
Mengaku al-Quran sebagai petunjuk jalan
Rasul Saw sebagai teladan
Tapi hari-hari membelakangi Tuhan
Ulama dihinakan
Kalimat tauhid dinistakan
Syariat Islam selalu diasingkan
Para pejuang khilafah dikriminalisasikan
Umat Islam dipinggirkan
Padahal mereka yang melakukan kejahatan
Pada Islam dan umatnya kebanyakan
Mengaku Islam yang kini di nusantarakan

Ketika merespon musibah hanya cukup sebagai gejala alam
Tapi lupa muhasabah, apalagi bertobat secara mendalam
Dosa-dosapun semakin kelam
Musibah berakhir dengan kesadaran yang tenggelam
Pada keangkuhan dan kesombongan yang sebentar lagi karam
Jika tak juga kembali pada kebenaran Islam

Oh, penguasa yang lupa akhirat
Oh, rakyat yang semakin melarat
Oh, diri yang selalu bermaksiat
Kapan kita semua rindu untuk taat?
Padahal sebentar lagi tiba kiamat
Tapi masih saja membela demokrasi yang keparat
Sebagai induk segala perbuatan jahat
Tidakkah sadar jika kita cepat-cepat
Tegakkan seluruh syariat
In sya Allah dunia akhirat kita selamat
Hingga musibahpun bukan lagi sebab hidup banyak maksiat
Tapi ujian agar kita semakin taat
Tidak seperti saat ini karena banyak maksiat, tidak mau juga bertobat

Sampai kapan lagi kita memaknai musibah sebagai gejala alam semata?
Tapi tetap lupa dan selalu ingkar pada Allah yang Maha Kuasa untuk wujudkan musibah atau menghentikan musibah
Bukankah sebagian musibah yang menimpa kita karena kemaksiatan penguasa, rakyat, dan diri kita sendiri?