Bisa jadi pemahaman terhadap Islam banyak yang keliru disebabkan bukan karena sebatas ketidaktahuan terhadap Islam dan karena sistem kehidupan yang tidak memberikan ruang ajaran Islam hidup dalam seluruh aspek kehidupan.
Persoalan lain yang sering luput dari kesadaran karena orang-orang yang merasa faqih dalam memahami ajaran Islam hanya menyampaikan Islam sebatas pemikiran, tidak dengan dibarengi oleh tata cara bagaimana Islam menerapkan pemikirannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, sudah sering kita mendengar ceramah-ceramah yang disampaikan oleh para ustadz, cendikiawan, dan ulama yang menjelaskan tentang hukum bagi si pencuri, yaitu dengan potong tangan.
Tapi masalahnya, sangat jarang yang mau menjelaskan (mungkin karena tidak tahu atau tidak mau) pencuri yang bagaimana yang sudah memenuhi batas dijatuhkannya hukum potong tangan? Siapa yang berhak menghukum pencuri dengan hukuman potong tangan? Tangan yang mana yang harus dipotong? Bagaimana caranya negara, individu, atau jamaah mencegah terjadinya pencurian? Dan begitu seterusnya.
Contoh di atas merupakan salah satu bukti bahwa Islam bukan sekadar kumpulan pemikiran, tapi sekaligus mengatur tata cara bagaimana menerapkan hukum-hukum Islam dalam kehidupan sehari-hari, dari mulai level individu sampai pada level Negara.
Umat Islam hari ini, masih belum banyak yang tahu bahwa Islam itu praktis, Islam itu sederhana, dan Islam itu pasti mampu memecahkan segala persoalan yang di hadapi oleh manusia selama manusia itu mau memahami Islam secara menyeluruh, mau mempraktekan Islam secara menyeluruh juga, dan mau mendakwahkan Islam sebagai sistem kehidupan yang paripurna.
Lantas, bagaimana Islam sebagai ajaran yang komprhensif itu mampu dipahami dan dipraktekan oleh umat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk diterapkan dalam wilayah pemerintahan dan Negara?
Pertama, umat Islam harus menyadari bahwa Islam bukan sekadar kumpulan pemikiran dan bukan sekadar mengajarkan tentang persoalan shalat, puasa, haji, zakat, nikah, cerai, akhlak, dan persoalan waris semata. Islam adalah agama, sekaligus sistem kehidupan yang mampu memberikan solusi terhadap seluruh persoalan umat manusia di dunia dengan solusi yang praktis dan mampu memberi jaminan keselamatan umat manusia di dunia dan akhirat.
Kedua, solusi di atas, tidak akan pernah bisa terwujud, selama umat Islam belum menyadari, memahami, dan mau mempraktekan dalam seluruh aspek kehidupan bahwa Islam bukan sebatas pemikiran yang hanya memberikan kepuasan intelektual dan jiwa bagi yang memahaminya saja, tapi Islam memiliki seperangkat sistem dan tata cara yang praktis, bagaimana pemikiran Islam tadi diterapkan dalam kehidupan.
Melihat perkembangan umat Islam dewasa ini, saat ini sudah banyak umat Islam yang menyadari bahwa syariat Islam itu wajib diterapkan dan Islam sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan sebagai solusi bagi umat Islam pada khususnya, dan umat manusia pada umumnya. Namun sayang, kesadaran ini berujung pada kebuntuan ketika ditanya, bagaimana caranya Islam itu diterapkan?
Sudah saatnya umat Islam membuka diri dan menggali kembali ajaran Islam, khususnya mengkaji Islam dari aspek thariqohnya (metode atau tata cara menerapkan Islam), agar umat Islam tidak terus berputar dalam pemahaman bahwa Islam sudah cukup untuk dipahami saja, sudah cukup Islam hanya jadi kajian ilmiah saja, dan sudah cukup menerapkan Islam hanya sebatas yang mampu dilakukan oleh individu dan jamaah saja.
Sebab, jika sikap putus asa ini yang selalu membelenggu umat Islam kebanyakan hari ini, maka selamanya Islam tetap akan hidup dalam benak umat Islam saja. Islam tidak akan pernah menjadi solusi dan penyelamat umat Islam dan umat manusia dari cengkraman sistem kehidupan yang menyengsarakan saat ini, yaitu sistem kapitalisme demokrasi. Wallahu a’lam