Siapa yang tidak bermimpi memiliki rupa yang cantik dan ganteng atau memiliki pasangan yang cantik atau ganteng? Jawabannya, semua berharap mendapatkan pasangan yang dimimpikannya.
Untuk sebagaian orang yang berambisi mendapatkan pasangan yang cantik atau ganteng menjadi hal yang prioritas. Hingga tidak jarang yang berusaha mendapatkannya dengan menempuh berbagai cara. Dari mulaI menempuh berbagai cara, sampai cara menghalalkan segala cara.
Ketika dorongan cintanya yang lahir dari naluri seksual atau naluri melestarikan keturunan ini tidak dibimbing oleh wahyu, tidak menutup kemungkinan banyak yang terjerumus ke lembah nista syahwat pada lawan jenis.
Memang benar, bahwa salah satu kriteria calon suami atau istri itu harus cantik atau ganteng. Di samping harus memiliki keturunan yang baik, memiliki harta yang baik, dan memiliki komitmen terhadap agama yang baik pula.
Dari keempat kriteria ini, seringkali yang menjadi pilihan pertama dan mungkin yang utama adalah memilih rupa, memilih harta, dan keturunannya. Sementara untuk pilihan agama, tidak jarang banyak yang mengabaikannya.
Wajar ketika menjalani kehidupan rumah tangga, yang dulu sebelum menikah, rupa menjadi impian yang paling besar untuk sebagian orang, tapi seiring berjalannya kehidupan rumah tangga, rupa tidak lagi menjadi pertimbangan pertama. Sebab tidak sedikit yang kawin cerai karena alasan bosan terhadap pasangannya.
Kebosanan ini terjadi karena orientasi pernikahan dari awal hanya berdasarkan naluri dan hawa nafsunya, bukan karena landasan iman dan standar hukum syara. Wajar, jika suatu saat ketika menjalani kehidupan rumah tangga banyak yang kecewa dan berakhir di meja hijau (cerai).
Adalah hak setiap orang memimpikan pasangan yang cantik ata ganteng. Dan tidak terlarang menurut hukum syara. Namun menjadi bencana ketika mengukur kebahagiaan rumah tangga hanya diukur dari batasan rupa atau harta.
Sebab fakta seringkali bertolak belakang dengan harapan. Pasangan yang rupawan yang awalnya dipuja-puja dan didamba-damba, akhirnya hanya cacian dan penyesalan yang didapat.
Ternyata kecantikan dan kegantengan tidak memberikan jaminan orang untuk mendapatkan kebahagiaan. jika kecantikan atau gantengnya seseorang tidak dibarengi dengan landasan iman, maka semua akan berakhir kecewa.
Ternyata kebahagiaan rupa itu akan ada ketika rupa yang menawan lahir dari kepribadian yang indah mempesona menurut padangan agama.
Kalau hidup selalu mengejar rupa, maka kebahagiaan akan dibatasi oleh usia dan selera. Dulu cantik. Seiring dengan bertambahnya usia kecantikan itu perlahan memudar dan menghilang sedikit demi sedikit.
Dulu kita yakin bahwa pasangan kita adalah yang paling cantik atau ganteng sedunia. Tapi karena rasa yang jadi landasan kecantikan atau kegantengan seseorang, maka semuanya akan cepat berubah karena perubahan selera rasa.
Harus kita sadari, bahwa rupa itu penting untuk menjaga keliaran rasa atau naluri agar tidak mudah tergoda kenyataan.
Namun, yang paling penting adalah bagaimana kecintaan pada rupa itu berangkat dari cinta yang tulus mengharap cinta pada pasangannya, sebagai wujud kecintaan dan ketundukkan pada segala kebenaran Allah SWT, agar kelak terjadi perubahan rasa dan bertambahnya usia, cinta pada rupa akan tetap mekar karena cintanya hadir bukan karena rasa dan usia, tapi cintanya pada Allah SWT. Wallahu a’lam