Menu Tutup

Dakwah VS Mencari Nafkah? (Bagian Tiga)

Lantas, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengemban dakwah agar dakwah benar-benar menjadi poros kehidupannya dan benar-benar nampak dalam kehidupan sehari-harinya? 

Tentu pertanyaan ini tidak bisa dijawab dengan sekadar teori dan hanya dengan bekal semangat dan harapan, lantas akan mendapatkan kesadaran tentang makna dakwah sebagai poros hidupnya. Perlu ada langkah praktis dan perlu ada pelurusan pemahaman yang keliru ketika memaknai dakwah sebagai poros hidup.

Seorang pengemban dakwah akan mengerti dan menyadari hakekat dakwah sebagai poros hidup yang berkonsekuensi mendorong dirinya berperilaku yang mencerminkan bahwa dirinya adalah pengemban dakwah yang telah menjadikan dakwah sebagai harga mati dan satu-satunya alasan dia tetap semangat dan optimis dalam menjalani kehidupannya di dunia. 

Ketika dia paham akan makna bahwa dakwah itu sebagai kewajiban; dia paham bahwa tujuan dakwah itu hanya untuk mendapatkan ridho Allah dan pahala dariNya semata; dia paham bahwa ketika dia meninggalkan dakwah dan melalaikan kewajiban dakwah akan menjadikan dirinya rugi dunia akhirat. 

Tidak sampai di sana, dia juga menyadari bahwa satu-satunya jalan menggapai kebahagiaan hakiki, yaitu mendapatkan ridho Allah sebagai satu-satunya tujuan mulia umat manusia, yaitu ketika menyadari bahwa jika dia tidak berdakwah secara total karena menyerahkan dan mencukupkan kepada orang lain yang sudah berdakwah, sementara dia berpikir jika setiap orang berpikir seperti dirinya, bagaimana misi mulia untuk mengimankan seluruh umat manusia hanya menyembah Allah dan hanya tunduk pada seluruh syariat Allah akan terwujud, jika dirinya meninggalkan dakwah atau melalaikan dakwah.

Langkah praktis agar terbangun kesadaran yang lahir dari keimanan dan ilmu yang matang, sehingga melahirkan konsekuensi berupa amal yang mencerminkan dirinya sebagai pengemban dakwah, yang menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya, dia harus menempuh langkah-langkah sebagai berikut:

1. Setiap kali muncul kemalasan dan kelalaian yang disengaja atau yang tidak sengaja dalam aktifitas dakwah, dia harus secepatnya menyadari, bahwa jika dia tidak berdakwah dalam arti yang seluas-luasnya, dia tidak akan pernah mendapatkan ridho dan pahala dari Allah. Sebaliknya dia akan mendapatkan kesengsaraan dan penderitaan dunia dan akhirat.

2. Setiap kali muncul ujian hidup, baik itu ujian berupa kekurangan harta, kekurangan jiwa, dan segala kekurangan yang bersifat materi, fisik, dan mental, dia harus selalu mengembalikan semuanya kepada Allah, bahwa ketika Allah menurunkan ujian pada dirinya, maka hakekatnya Allah sedang meningkatkan kualitas iman, ilmu, dan amal dirinya agar menjadi lebih baik dan terus mengingkat pada titik kebaikan dimana dia tidak bisa menggapainya lagi (kematian). 

Di samping itu, ketika ujian menimpa dirinya, dia harus menyadari bahwa Allah sedang mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat, dan Allah sedang mempersiapkan rahmat, karunia, dan ampunannya di dunia dan akhirat.

3. Setiap kali ada amanah ataupun tidak ada amanah dakwah dari jamaah dakwah, dia tetap menunaikan kewajiban dakwahnya tanpa lagi peduli kehidupan dirinya, keluarganya, atau lingkungannya. Dia tetap berdakwah dalam kondisi apapun.

4. Setiap saat, setiap waktu dia tiada berhenti bersemangat memperbaiki dirinya, meningkatkan tsaqofahnya, meningkatkan nafsiyahnya, tiada henti bertaqarub kepada Allah, dan tiada henti bergaul di tengah-tengah masyarakat ataupun bergaul dengan sesama pengemban dakwah dalam rangka membentuk kesadaran jamaah. 

5. Jika di suatu saat muncul titik jenuh, bosan, dan merasa tidak ada perubahan baik perubahan dirinya ataupun perubahan lingkungannya, maka dia harus menyadari bahwa kondisi tersebut sebenarnya menandakan bahwa dia sedang dipalingkan setan dari tujuan mulia dan agung.

6. Dakwah ideologis bukanlah dakwah yang hanya mengandalkan semangat dan harapan secara pribadi, tetapi dakwah yang memerlukan pemahaman yang mendalam dan matang akan pentingnya kebersamaan, kekompakkan, saling menasehati sesama pengemban dakwah, dan adanya kesatuan rasa, pikiran, dan aturan dalam menjalankan segala aktifitas dakwah yang dijalankan.

7. Dakwah sebagai poros hidup tetap hanya akan menjadi jargon dan basa-basi tapi tidak menghujam dalam diri, ketika seorang

pengemban dakwah sehari-harinya setiap saat setiap waktu, baik niatnya, pikirannya, ucapannya, dan tingkah lakunya selalu di dominasi kecenderungan pada duniawi. Meskipun dia selalu mencitrakan dan membicarakan bahwa dirinya telah menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya.

Persoalan inti dari dakwah versus mencari nafkah yang selalu dikesankan dibentur-benturkan, hakekatnya antara pengemban dakwah yang selalu mengklaim bahwa dirinya telah menjadikan dakwah sebagai poros hidup, ataupun pengemban dakwah yang selalu menjadikan alasan mencari nafkah yang menjadikan dia sering absen dan lalai dalam dakwah, sebenarnya dua-duanya masih mengedepankan ego masing-masing, karena satu sama lain keliru memposisikan antara dakwah dan mencari nafkah. 

Dengan kata lain, seharusnya siapa pun dia yang mengaku pengemban dakwah, harus mampu mendudukkan persoalan dakwah dan mencari nafkah dikembalikan pada hukum syara, bukan pada emosi, cinta pada kekuasaan, dan kepentingan tertentu. 

Selama hukum syara tidak dijadikan tolok ukur untuk memahami, mengatur dan memenej antara dakwah dan mencari nafkah, baik itu dalam konteks indivudu ataupun dalam konteks jamaah dakwah, maka selamanya kita akan selalu membenturkan dan terjadi benturan antara dakwah dan mencari nafkah.

Sejatinya pengemban dakwah yang telah menjadikan dakwah sebagai poros hidup akan paham betul posisi dirinya sebagai pribadi, sebagai bagian dari keluarga, sebagai bagian dari jamaah dakwah, dan sebagai seorang muslim yang paham bahwa kehidupan mulianya hanya akan didapat ketika dia selalu bercita-cita hidup mulia atau mati syahid. 

Dan cita-cita mulia ini hanya bisa diwujudkan saat dia meyakini hanya dengan menjadikan dakwah sebagai poros kehidupannya, maka cita-cita hidup mulia dan mati syahid yang diridhoi Allah SWT akan terwujud. Wallahu a’lam. Tamat