Menu Tutup

DAKWAH VS MENCARI NAFKAH? (Bagian Dua)

Meluruskan Makna Dakwah Sebagai Poros Hidup

Hal yang tak kalah pentingnya terkait dengan mendudukkan persoalan dakwah dengan mencari nafkah adalah persepsi liar dalam memahami hakekat dakwah sebagai poros hidup. 

Karena tidak jarang persepsi dakwah sebagai poros hidup terkesan di sebagian pengemban dakwah menganggap selain urusan dakwah itu tidak penting atau kurang penting. Padahal Islam tidak pernah menganggap perintah-perintah hukum syara baik yang wajib atau mandub di posisikan antara yang satu dengan yang lainnya lebih unggul atau yang lainnya tidak penting. 

Prinsipnya, Islam tidak pernah menganggap bahwa dakwah itu lebih penting daripada mencari nafkah. Atau sebaliknya, Islam tidak pernah menganggap mencari nafkah lebih penting daripada dakwah. 

Aktifitas dakwah adalah aktifitas para Nabi dan Rasul. Begitu juga para pengikut Nabi dan Rasul. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa para Nabi dan Rasul adalah manusia yang paling mulia dalam pandangan Allah. Karena kehidupan mereka dihabiskan untuk menyeru umat manusia agar beribadah dan tunduk pada segala aturan Allah. Mereka semua adalah manusia-manusia pilihan Allah yang sengaja Allah utus untuk menyelamatkan umat manusia dari kesesatan hidup dan dari ketundukkan hidup pada selain Allah.

Ibrahim as, Musa as, Daud as, Isa as, sampai Muhamad saw adalah yang telah berjuang dengan gigih dan gagah berani hanya untuk mewujudkan pengabdian kepada Allah dengan menegakkan kalimatullah di muka bumi. 

Mereka hanya menyeru jalan kebenaran-Nya dan bukan jalan yang lain, bukan untuk kemuliaan mereka, kehormatan, sanjungan, kekayaan, dan kekuasaan. Mereka berjuang bukan untuk mendapatkan singgasana, pujian, pujaan, dan penghormatan dari manusia. 

Dan mereka berjuang bukan untuk mendapatkan keuntungan dunia, materi, dan kesenangan duniawi lainnya. Tujuan mereka hanya satu, bahwa mereka adalah utusan Allah untuk menyelamatkan manusia dari penghambaan kepada selain-Nya dan menyelamatkan kehidupan manusia dari segala aturan yang tidak bersumber dari Allah SWT.

Begitu juga dengan Abu Bakar ra, Umar ra, Utsman ra, Ali ra, dan para pengikutnya yang benar-benar yakin bahwa hidup mereka abdikan diri hanya untuk mentaati segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan Allah sekaligus mengajak kepada umat manusia untuk sama-sama hanya taat dan tunduk kepada segala perintah dan menjauhi segala larangan Allah—bukan kepada selain-Nya.

Kini saatnya giliran kita untuk mengajukan pertanyaan, sudahkah kita miliki apa yang telah mereka miliki dan sudahkah kita serius menghadirkan selalu ruh perjuangan kita semata-mata karena ketundukan pada segala titah-Nya dan hanya untuk mendapatkan pahala dan ridho-Nya semata? Sudahkah kita menjadikan dakwah sebagai poros hidup kita di dunia?

Bagi pengemban dakwah sejati, aktifitas dakwah tentu harus menjadi harga mati dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Terlebih bagi pengemban dakwah ideologis yang bertujuan untuk mengembalikan kehidupan Islam dalam institusi negara, dakwah haruslah menjadi poros bagi kehidupannya. 

Artinya, aktifitas apapun yang dia lakukan dalam kehidupan sehari-hari, dia akan tetap menjadikan Islam sebagai pemahaman aktifitas hidupnya, Islam dijadikan sebagai tolok ukur halal dan haram dalam setiap aktifitasnya, Islam akan selalu menjadikan dirinya merasa puas dalam menjalani aktifitas hidupnya, dan hanya Islam yang setiap saat setiap waktu dia bicarakan dan dia sebarkan di manapun dan dalam kondisi apapun. 

Seorang pengemban dakwah ideologis sejatinya adalah mereka yang telah menjadikan dakwah satu-satunya harta berharga dalam menjalani kehidupannya di dunia. Mereka sadar bahwa aktifitas yang paling agung dalam pandangan Allah adalah dakwah. Sebagaimana para Nabi dan Rasul serta para ulama sebagai pewaris Nabi yang menjadikan hidupnya hanya dihabiskan untuk menyeru kepada umat manusia agar menjadikan Islam sebagai sistem kehidupannya. 

Dakwah sebagai poros hidup akan dipahami, disadari, dan menjadi mafhum dan tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-hari, ketika seorang yang telah meyakini dengan pasti bahwa dunia ini adalah tempat perjuangan—dunia ini hanyalah tempat untuk menjadi abdi Allah dan khalifahNya. 

Kesadaran akan tujuan hidup hakiki manusia di dunia ini, yang ditopang dengan landasan iman yang kokoh, tsaqofah yang matang, dan nafsiyah yang kukuh, tentu akan mendorong seorang pengemban dakwah untuk menetapkan diri menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya.

Seorang pengemban dakwah tidak mungkin akan memiliki kesadaran bahwa hanya dakwah sebagai poros hidup, jika dalam dirinya tidak memiliki kapasitas memahami secara mendalam, menyeluruh, dan mendasar akan eksistensinya sebagai manusia yang tahu dari mana dia berasal, untuk apa dia diciptakan, dan akan kemana dia setelah mati. 

Tidak berhenti di sini, seorang pengemban dakwah yang telah menjadikan dakwah sebagai poros hidupnya akan tiada henti melejitkan segala potensi dirinya menuju kepada kesempurnaan. 

Dia sadar betul tidak mungkin akan memiliki kesadaran bahwa dakwah adalah poros hidupnya, jika dia sendiri masih lalai untuk mendalami tsaqofah Islam, dia masih abai untuk terus memperbaiki tingkah laku hidupnya, dan dia masih asal-asalan dalam menjalankan setip amanah dakwah yang diberikan pada dirinya.