Aku yang benar
Kau yang salah,
Kata ego.
Aku yang salah
Kau yang benar,
Kata nurani
Aku kadang benar
Aku kadang salah,
Kata diri.
Kau kadang benar
Kau kadang salah,
Kata rasio
Aku benar kau benar
Aku salah kau salah,
Kata si jujur
Benar dan salah, selama diukur oleh pikiran manusia, selamanya akan menyisakan egoisme.
Benar dan salah, ketika semua kembali pada Allah, selamanya akan selalu memberi kedamaian, bukan kemarahan, kebencian apalagi permusuhan.
Selama dalam diri masih menyimpan,”Aku benar walau salah”, atau, “Aku selalu benar apalagi dalam posisi benar”, tapi selalu menilai luar diri salah. Maka itulah yang akan selalu menjadi keyakinan diri, ketika benci selalu jadi teman sejati, dan sombong selalu jadi kebanggaan diri.
Berhentilah selalu mengatakan, “Aku yang selalu benar”! Sementara kebenaran Allah tak hadir dalam kesadaran, ucap, dan tingkah, meski selalu mengatakan kebenaran Allah dalam lisan. Sebab, sifat seperti Itulah yang menjadi warisan iblis.
Sebaliknya, katakanlah selalu, “Aku salah ketika Allah menilaiku salah, dan aku benar ketika Allah menilaiku benar”, yang lahir dari kesadaran iman dan diiringi dengan sikap rendah hati dan ketulusan.
Kalaupun luar diri menilai kita tetap salah, tak perlu menampakkan kebencian dan kemarahan, cukuplah senyuman yang terlontar.
Bukankah Allah yang jadi sandaran segala tujuan, bukan manusia atau setan? Wallaahu a’lam.