Lantas, bagaimana kita memulai untuk memasuki dunia kematian, agar anjuran Rasul saw. untuk mengingat mati sebagai proses meyakini, bahwa akhiratlah tempat tinggal sebenarnya, bukan dunia?
Barangkali tiap orang pernah mengalami banyak atau sedikit untuk mengingat mati. Adapun manfaat tidaknya dari mengingat mati, ditentukan oleh kadar keimanan seseorang.
Paling tidak, kita punya bekal untuk lebih serius mengingat mati dan lebih khusu pikiran kita terpusat untuk mengingat mati.
Menurut sunnatullah, bahwa seseorang akan mengingat dan memikirkan sesuatu secara serius dan mendalam, yaitu ketika dia tahu alasan, tujuan, dan manfaat mengapa dia memikirkan sesuatu tersebut.
Seseorang hanya akan memikirkan apa yang diinginkannya atau yang dibutuhkannya. Dan seseorang tidak akan memikirkan dan mengingat-ingat sesuatu yang dibenci dan tidak mengenakan hatinya.
Begitu juga dengan mengingat mati. Kita tidak akan mengingat mati secara serius dan mendalam serta dilakukan secara terus-menerus, ketika kita tidak tahu alasan, tujuan, dan manfaat ketika mengingat mati.
Urgensi Mengingat Kematian
Mengapa begitu pentingnya kita harus selalu mengingat kematian? Sementara dalam kenyataannya, justru kematian adalah persoalan yang kadang atau mungkin justru yang sering kita lupakan.
Karena realitas inilah pentingnya kematian menjadi pengingat dan pelajaran bagi orang-orang yang masih punya napas kehidupan.
Kematian adalah perkara yang pasti terjadi untuk selain Khalik. Tanah akan menjadi tempat pembaringan; ulat akan menjadi teman; Munkar dan Nakir akan menjadi ‘tamu’; kuburan akan menjadi tempat tinggal; perut bumi akan menjadi tempat menetap; kiamat akan menjadi janji-Nya; surga atau neraka akan menjadi tempat kembali—tidak punya pikiran selain mengingat kematian; tidak melakukan persiapan kecuali untuknya; tidak melakukan usaha kecuali untuknya; tidak berambisi kecuali kepadanya; tidak melakukan pendakian kecuali di atasnya; tidak punya perhatian kecuali terhadapnya; tidak mengumpulkan daya kekuatan kecuali untuk menghadapinya; tidak ada penantian kecuali untuknya. Itulah ungkapan Al-Ghazali ketika memaknai kematian.