Mengurai keberadaan diri tidaklah semudah dan sesemangat mengurai rambut kusut sang kekasih. Perlu ada kesabaran yang ekstra, pemahaman yang mendalam dan komprehensif, serta ilmu yang mumpuni untuk menyibak semua rahasia diri.
Bagaimana bisa menyibukkan diri untuk mempelajari siapa diri, apa yang ada dalam diri, apa saja keburukan diri, seberapa banyak kebaikan diri, bagaimana pola hubungan yang jalani diri selama ini, baik pola hubungan antara diri dengan diri sendiri, dengan sesama manusia, dan dengan Allah SWT?
Bagaimana diri bisa menyediakan waktu yang banyak untuk memperhatikan diri sendiri, tanpa mesti menyita waktu kebutuhan diri untuk hidup dengan luar diri?
Bagaimana diri bisa mengontrol diri saat sendiri, saat bersama orang lain, dan saat berhubungan dengan Allah? Apa saja yang diri perlukan untuk menghadirkan diri agar tetap berada dalam kebenaran?
Kapan diri mulai baligh? Berapa puluh tahun diri menjalani kehidupan yang tidak pernah luput dari catatan kebaikan dan keburukan? Berapa tahun diri dekat dengan Allah? Berapa tahun diri meninggalkan Allah? Berapa tahun diri mempelajari Islam? Berapa tahun diri menjalani hidup penuh kebaikan atau pun kesia-siaan?
Berapa tahun diri melaksanakan shalat, zakat, puasa, haji, dakwah, dan jihad yang dilandasi oleh keimanan dan keikhlasan sebelum menjalani, ketika menjalani, dan setelah menjalani semua aktifitas ibadah yang berhubungan dengan Allah?
Berapa tahunkah diri serius belajar akhlak, memperbaiki akhlak, dan terus bercita-cita menjadikan Rasul saw. sebagai uswah satu-satunya akhlak diri dalam arti yang seluas-luasnya?
Berapa tahun diri bekerja mencari nafkah karena Allah, bermuamalah sesuai dengan hukum syara, dan menjalani kehidupan keluarga, bertetangga, ekonomi, politik, hukum, pendidikan, dsb semuanya berada dalam kontrol iman dan hukum syara?
Berapa tahun kehidupan baligh dengan menyibukkan diri mengingat akhirat dan kematian; mempersiapkan amal yang sebanyak-banyaknya untuk bekal di hari yang abadi; dan berapa tahunkah diri memegang teguh niat, cara, dan tujuan diri hidup hanya diperuntukkan untuk Allah semata?
Itulah sebagian pertanyaan-pertanyaan dalam rangka belajar memahami diri secara utuh; mempelajari diri secara mendalam; dan meraih hakekat diri yang tahu dari mana diri berasal, untuk apa diri hidup, dan akan kemana diri setelah kematian. Wallaahu a’lam.