Syeikh Taqiyuddin kepada utusan Jendral Glubb Pasha:
“Ya akhi, sampaikanlah kepada pihak yang mengirimmu kepada saya, Biji jeruk dan remahan roti lebih dari cukup bagi saya dibandingkan dengan semua kekayaan yang dimiliki oleh Inggris bahkan jika dikumpulkan sekalipun.”
Seorang pengemban dakwah sejatinya tidak manut dan tunduk pada kekayaan. Sekali saja menyerah pada kekayaan, maka jangan harap dakwah akan menjadi poros hidupnya.
Sayangnya, aku masih sering tergoda dengan yang namanya uang, kehormatan, harga diri, eksistensi, dan segudang kehampaan hakiki lainnya.
Meski mungkin disadari, tapi tetap saja pengaruh dunia lebih besar daripada pengaruh iman dan idealisme hidupku.
Jika aku sudah menjadi salah satu tawanan kenikmatan dunia yang menipu, entah itu harta, tahta, ataupun rupa, maka jangan harap aku akan serius dan sungguh-sungguh menjalani kehidupan sebagai pengemban dakwah yang semata-mata berharap ridho dan cintaNya.
Jika aku ditawan oleh rupa, maka wajah pasanganku akan aku anggap lebih cantik daripada keindahan dan kecantikan wajah dakwah.
Akhirnya, seringkali aktifitas dakwahku dikalahkan oleh rayuan, belaian, ciuman, bahkan pelukan istriku daripada harus ikut kajian, ikut diskusi politik, dan kontak pada masyarakat.
Hari-hariku selalu dibayang-bayangi ketakutan pada istriku, daripada takut pada Allah Sang Maha Kekasih sesungguhnya.
Syariat Allah pun menjadi korban dan terlantar di ruang hampa naluri melestarikan keturunan, karena cintaku pada pasangan, lebih besar daripada cintaku kepada Allah dan Rasulnya.
Jika aku ditawan oleh tahta, hari-hariku dihabiskan untuk memuja kehormatan, kemuliaan, dan harga diriku di mata orang lain.
Yang aku perjuangkan bukan harga diri dan kemuliaan Islam dan umatku, tapi aku lebih condong pada harga diri dan kemuliaan diriku.
Saat hukum syara aku abaikan, aku lalaikan, dan tidak pernah aku jadikan prioritas hidupku, meskipun aku selalu mengatasnamakan syariatnya.
Kenyataannya, aku selalu mengatasnamakan syariat bukan karena landasan ketundukan pada Allah, tapi untuk memperjuangkan eksistensiku, kehormatanku, kemuliaanku, dan harga diriku agar mendapatkan semua itu dari orang-orang yang ada di sekitarku.
Tidak ketinggalan, jika aku ditawan oleh harta, hari demi hari, aku hanya tertarik untuk selalu menumpuk-numpuk harta yang nantinya akan aku pamerkan dan aku jadikan sebagai kekuatan untuk menindas orang lain.
Kalaupun aku infakkan hartaku di jalan dakwah, itu semua aku lakukan hanya demi harga diri, kemuliaan, dan kehormatan yang aku berharap mendapatkannya dari manusia, bukan berharap mendapat keridhoan Allah, meski aku selalu berdalih keikhlasan dan atas nama keimanan.
Sungguh sia-sia jika aku masih mudah dirayu dan akhirnya tenggelam dalam tipuan harta, tahta, dan rupa. Padahal aku sudah bersumpah menjadi penjaga Islam yang terpercaya. Namun kenyataannya, hakekatnya aku adalah penjaga harta, tahta, dan rupa yang terpercaya. Naudzu billaahi min dzaalika.
Mudah-mudahan ungkapan syeikh Taqi di atas, menjadi penyadar pada diriku, bahwa jika aku mengaku seorang pengemban dakwah ideologis, maka aku jangan mudah tergoda dengan secuil rayuan dunia.
Karena sedikit saja tergoda, jangan harap dakwah sebagai poros hidupku akan terwujud. Justru yang ada hanyalah dakwah hanya sekadar topeng untuk menutupi ambisi mencintai harta, tahta, dan rupa. Naudzu billaahi…
Terima kasih yang tak terhingga wahai guruku, mudah-mudahan aku bisa mengikuti jejakmu. Maafkanlah aku sebagai muridmu ini yang masih banyak kepura-puraan dan kepalsuan sumpahku sebagai penjaga Islam yang terpercaya ketika menjalani hidup sebagai pengemban dakwah ideologis. Wallaahu a’lam.