Menu Tutup

KETIKA SUDAH NYANDU KORUPSI

Apa para koruptor tidak menyadari, uang hasil dari korupsi tak kan pernah bisa membuatnya bersih hati? 

Dari awal dia punya niat untuk korupsi,  gelisah selalu menghantui. Itu sudah bukti pasti, bahwa gelisah adalah salah satu yang paling memedihkan hati. Di bawa angan-angan yang tinggi karena dorongan naluri yang tak mau diatur Ilahi. 

Akhirnya hari-hari di isi dengan duri-duri di hati. Perih mengiris, tapi selalu merasa berarti karena keinginan yang belum terpenuhi.

Ketika Allah berikan apa yang dia ingini,  bahagia didapat hanya bagi naluri, tapi tidak untuk hati. Sebab, korupsi hanya akan menanamkan siksa pada diri, dengan selalu dihinggapi rasa takut yang tiada henti.

Hari-hari seolah semua mencurigai, bahwa dirinya korupsi. Dia berlari-lari menjauhi keresahan hati dengan menggunakan hasil korupsi, baik itu beli ekstasi, berjudi, bahkan mungkin melacurkan diri pada cewek penjaja diri. Uang pun habis, dosa semakin menggunung tinggi, takutnya semakin menjadi.

Untuk menenteramkan kegalauan hati, ia kembali mencari celah korupsi,  bermain-main dengan api, yang akhirnya tertangkap polisi, hidup dalam jeruji besi.

Kalaupun bebas dari tuduhan korupsi sampai berhenti jadi pejabat negeri, ada dua kemungkinan yang terjadi, tertangkap para pemberantas korupsi, atau bebas dari korupsi sampai mati.

Jika ia bebas dari jeratan korupsi sampai mati, apakah bahagia akan dia dapati?  Ternyata tidak sama sekali. Kerasnya hati semakin menjadi. Derita hati semakin tak terlampaui. Penyakit fisik terus menggerogoti. Akhirnya mati hina di hadapan Ilahi.

Siksa kubur pun telah menanti. Dari sore sampai pagi. Terus berulang setiap hari sampai tiba kiamat yang pasti. Diperlihatkan neraka sebagai tempat dia menghuni, bisa sementara atau abadi. Tergantung dosa yang dia miliki, atau tergantung rahmat Ilahi.

Yang pasti, penantian di alam barzah sampai tiba hari yang abadi, sesal yang tiada berarti akan selalu menemani,  hari-hari dikubur sendiri, gelap sepi dan pengap tiada bebas sama sekali.

Ketika tiba hari kiamat nan lestari, pedihnya semakin tak terobati. Diinterogasi oleh Allah Rabbul Izzati,  meminta tanggung jawab segala laku selama di bumi, sehingga akhirnya putusan yang adil dan pasti, tak bisa disuap oleh seluruh harta hasil korupsi. 

Sungguh tragis nasib diri yang selalu doyan korupsi selama hidup di bumi, yang tak sempat ditaubati. Nauudzubillahi ya, Rabbul Izzati, jauhkan diri dari rupa dan ragam korupsi! Biarkan hamba hanya ridho dari apa yang Kau beri. Sudah cukup bahagia di hati, demi wujudkan kekayaan hakiki.