Tiap saat mataku melihat, dalam taat dalam maksiat. Banyak taat, sadar iman yang mengikat. Banyak dosa dan maksiat, sadar setan yang tak pernah terlewat.
Adakah mataku menangis di kala umat mengais nasib sendiri? Sebagian ulama telah meninggalkan umat karena telah kongsi dengan penguasa yang hari-harinya memikirkan diri sendiri. Agama bak dagang sapi. Tak tersisa tulang, daging, sampai hati. Dijual untuk dimakan anak dan istri.
Adakah air mataku menetes tiada henti? Aku bangkit dari mengerami nasib diri, yang melulu habiskan energi hanya untuk memanjakan naluri dan jasmani.
Sungguh betapa rugi diri yang mengaku iman pada Allah yang Maha Sejati, tapi hanya untuk meneteskan air mata saja, beratnya sampai mau mati. Melihat umat seperti buih lautan dan ajaran Islam sekadar koleksi ilmu pengetahuan, tapi mati dalam aksi.
Oh, mataku! Yang hanya baru sembab saat kehilangan nikmat dunia. Tapi selalu sembunyi menangisi nasib umat dan agama. Selalu sembunyi di balik kerasnya hati. Tapi mengapa aku selalu merasa punya takwa?
Duhai, mataku! Kapan kau keluarkan air mata menjadi penyelamat api neraka? Ketika hari-harimu selalu terjaga melihat firman-Nya penuh iman. Tetes air matamu mampu menggerakkan pikir dan lakumu untuk menjadikan hidupmu selalu menjadi penolong agama-Nya dimana dan kapanpun kau berada.