Menu Tutup

BEDA BUKAN UNTUK SALING MENCELA


Benarkah semua tak pernah sama? Jika semua tak akan pernah sama, buat apa kita hidup bersama, jika semua hanya memandang dari sudut beda.

Kemana larinya keyakinan yang Esa? Bukankah semua wajib sama? Andai ada bijak di dada dan logika, tentu kita akan tahu mana yang boleh beda, mana yang boleh sama, mana yang haram beda, dan mana yang haram sama.

Agama Allah itu untuk semua manusia, bukan hanya umat Muhamad al-Mustofa. Allah beri akal pada manusia sebagai bekal yang istimewa untuk menangkap semua kebenaran tanpa ragu di dada.

Munculnya beda diantara pendapat manusia adalah fakta yang mustahil tiada. Karena memang itu ciri akalnya manusia. Namun selama akal manusia menjelma, tanpa mau melibatkan iman di dada, dan kebenaran Allah sebagai landasan dan tujuan yang utama, perbedaan akan terus melahirkan angkara.

Jika kebenaran manusia bersandar kepada wahyu Allah subhana wataalaa, kemudian terjadi persoalan yang beda, ada beberapa kemungkinan yang melanda. Bisa jadi ilmunya belum sampai menghukumi fakta dengan kebenaran agama, atau telah sampai menghukumi fakta dengan agama, tapi belum tepat menerapkan hukum sesuai dengan fakta.
Atau bisa jadi menghukumi fakta hanya sebatas logika yang dikesankan seolah dari agama, atau masih semata-mata logika karena sombong masih menghujam di dada.

Sebenarnya Allah itu Maha Tahu yang terbaik buat manusia, termasuk Allah ciptakan yang beda, tentunya bukan untuk memecahkan cinta sesama manusia. Tapi Allah mengajarkan pada manusia agar serius mmencari yang benar menurut agama, bukan berdasarkan logika semata.

Jika persoalannya adalah pokok-pokok agama, sebenarnya akal manusia mampu melihat fakta yang terindera, tanpa akan hadir sedikitpun ragu di dada. Namun ketika perkara pokok itu terkait yang tak mampu terindera, hal itu hanya boleh berlaku nash yang pasti sumber dan makna, baru kita akan mengerti, bahwa sungguh manusia itu pasti akan hidup bersama.

Jika persoalannya adalah pada masalah-masalah cabang agama, janganlah hati memendam durja. Karena ketika terjadi beda, hanya kebencian yang mengemuka, bukan toleransi penuh iman yang dijaga.

Sekali lagi yang harus kita jaga, beda ada tidak untuk saling mencela. Tapi bagaimana kita lebih semangat menggali agama penuh iman yang membara agar ilmu yang didapat bukan untuk perang logika. Apalagi membela atas nama partai, kelompok, madzhab, atau ormas agama, sungguh durja dan hina perilaku kita. Seharusnya ilmu itu hanya untuk wujud taat hanya kepada Allah subhana wataalaa. Wallahu a’lam