Ada rindu yang tersimpan rapat dalam keyakinan yang tak butuh pembuktian. Karena kesadaran iman mencegahnya agar tak mudah terjebak fakta yang kasat mata.
Memang ada keindahan dan kenikmatan ketika rindu itu terucap. Tapi tetap saja berujung keruh dan kelam. Karena rasa hendak menukarkan harga kemuliaan dengan kehinaan.
Biarkanlah rindu itu terpendam tanpa butuh waktu penantian atau berharap yang kosong dari kesadaran iman pada qadhaNya dan syariatNya.
Jika nyatanya suatu hari rindu itu harus mati karena iman pada qadha dan syariatNya, tak usah ada sesal dan sakit hati. Karena yakinlah, jika iman yang jadi sandaran, bukan rasa yang selalu berubah dan menipu diri, rindu itu akan berbuah manis, meski tanpa bersambut dan menyatunya dua hati.
Rindu yang dimiliki tak usah dikebiri atau dipuaskan sesuka hati. Rindu itu bisa tawar, bisa manis, bisa pahit, atau asam. Semua kembali pada persepsi.
Bukan rindu yang harus diperjuangkan. Tapi bagaimana rindu selalu tunduk pada keyakinan yang hakiki, yaitu keyakinan tentang kepastian cinta yang harus diikat iman dan hukum syara.
Jadi, biarkan rindu tumbuh dengan ketaatan pada hukum syara. Agar kelak rindu yang terpendam dalam kesabaran menanti janjiNya, bukan janji ia yang telah berdusta, akan menjadi indah dan bahagia, yang lagi-lagi meskipun tanpa kehadiran ia yang sempat dirindukan.