Menu Tutup

Berhentilah Memposisikan Diri Sebagai Objek Penderita!

Tdk selamanya kita selalu memposisikan sebagai objek penderita. Ada saatnya ketika rasa sakit sudah klimaks, bisa jadi waktunya kita menjadi subjek untuk muhasabah secara jujur pada diri dengan menafikan luar diri sebagai penyebab luka hati kita.

Selama diri selalu memposisikan sebagai orang yang disakiti, tapi tidak mau menyadari secara jujur bahwa diri juga sering menyakiti, maka selama itu pula, sikap merasa selalu disakiti akan terus berulang menimpa diri. Meskipun secara dohir kita selalu menampakkan kelemahan.

Namun sayang, kelemahan itu bukan dimaksudkan sebagai bahan muhasabah, tapi ingin berharap ada yang empati dan melupakan kewajiban diri untuk muhasabah dan memperbaiki diri sendiri.

Walau kita sering berlindung atas nama Allah, menampakkan diri yang sabar, yang ridho, dan pasrah menerima qadhaNya. Lalu kita tampakkan pula sikap yang seolah-olah ingin bijak dan dewasa dalam menghadapi kondisi diri yang selalu disakiti dengan sikap diam, menyembunyikan luka, dan selalu menampakkan sikap tegar, tapi diri tidak mau sungguh-sungguh mencari penyebab pokok mengapa kita disakiti, yang bisa jadi karena kita sering menyakiti, maka kita akan tetap sulit menyembuhkan luka diri. Karena kita terlalu sibuk memposisikan sebagai objek penderita, tapi lupa kita sebagai subjek yang wajib selalu memperbaiki diri.

Bukankah hidup itu selalu ikuti sunnatullah, bahwa siapa yang menanam, maka dia pula yang akan menuainya?

Sebab merasa disakiti, belum tentu kita dalam kondisi selalu didzolimi. Adakalanya karena kita sering tidak sadar selalu menyakiti. Wallaahu a’lam