Menu Tutup

Melawan Kemunafikan

Siapa yang suka khianat? Pasti ia berada di jalan sesat.

Siapa yang hobi berdusta? Pasti ia hidupnya tak pernah bahagia.

Siapa yang doyan ingkar? Pasti ia hidupnya dipenuhi egoisme dan nalar yang gak mau sadar.

Siapa yang tak mau sadar-sadar nikmati hidup dalam kemunafikan? Pasti ia sudah gelap memandang visi hakiki kehidupan.

Setiap orang pasti pernah berdusta, khianat, ingkar, dan sombong. Termasuk diri ini yang kotor dan berlumur dosa.

Ada yang berhenti dari kemunafikan. Ada yang teguh dalam kemunafikan. Ada yang kadang mengulang kemunafikan. Ada yang tetap gak sadar hidupnya penuh dengan kemunafikan. Ada yang total membenci kemunafikan, dan terus belajar menjadi orang yang jujur, orang yang amanah, orang yang terpercaya, dan orang yang tawadhu serta tahu diri.

Kalau hendak mengubur kemunafikan, maka kuburlah kebiasaan berbohong, khianat, ingkar, dan sombong.

Setelah kebiasaan munafik di kubur dalam-dalam, maka saat bersamaan belajarlah setiap saat setiap waktu untuk menjadi orang jujur, tawadhu, terpercaya, dan amanah.

Jika godaan untuk kembali pada kemunafikan menghampiri, maka bayangkanlah kehinaan dan kesengsaraan di dunia, dan bayangkan adzab yang pedih dan abadi bagi orang-orang munafik sejati di kehidupan neraka yang paling dasar.

Jika itu belum juga kuat bertahan untuk menjadi seorang mukmin, maka setiap saat setiap waktu berdoa, memohon ampun, dan pertolongan untuk dijauhkan selama-lamanya dari sifat munafik.

Jika masih saja sulit, belajarlah untuk diam dari setiap kesempatan yang menghadirkan kemunafikan dengan tiada henti berdoa dalam hati dijauhkan dari kemunafikan.

Jika tetap sulit, cobalah berteman dengan orang-orang yang jujur, amanah, terpercaya, dan tawadhu. Jauhilah orang-orang yang senang dengan kemunafikan.

Jika tetap belum bisa jauh dari kemunafikan, tanyalah pada diri, sudah seriuskah atau sudah sungguh-sungguhkah diri mengubur kemunafikan?

Bukankah makna sungguh-sungguh atau serius itu ketika terwujudnya apa yang dicita-citakan, yang diimpikan, dan yang diharapkan?

Jika benar diri sungguh-sungguh ingin mengubur kemunafikan untuk selamanya, maka selamanya diri ini tak henti keluarkan keringat keimanan dan ketaatan untuk wujudkan diri sebagai pribadi mukmin yang tunduk pada segala titah dan laranganNya sampai akhir hayat. Aamiin.

Sampai kapan aku hidup dalam kemunafikan? Ya, Rabb… Ampunilah segala kemunafikan yang selama ini aku perbuat! Jadikanlah aku sebagai seorang mukmin sebenarnya! Aamiin. Wallaahu a’lam