Dalam sistem sekuler, ada banyak yang tulus tapi wajah cemberut. Tahu kebenaran tapi berat melaksanakan. Seperti minyak Unta cap Babi. baik di dalam, jelek di luar. Tahu dan rindu pada kebenaran Tuhan. Tapi ucap dan tingkahnya selalu menentang aturan Islam.
Sungguh sayang seribu kali sayang. Menampakkan wajah cemberut meski hati menanamkan ketulusan. Sungguh sia-sia apa yang dilakukan.
Dalam sistem sekuler, ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ucapannya tak lagi disanksikan. Selalu mengandung kebenaran dan penuh kebijaksanaan.
Namun sayang seribu kali sayang. Tingkahnya tak seiring ucapnya yang bijak. Lakunya tak mencerminkan lisan yang penuh hikmah. Akhirnya kebenaran tak bisa mengantarkan perubahan. Justru hanya melanggengkan kehinaan.
Dalam sistem sekuler, banyak pelacur yang tampil jadi figur karena media dan para pemilik kebijakan senang dengan berbagai kemaksiatan. Yang nikah sesuai syariat dipenjarakan. Yang zina terang-terangan bebas berkeliaran. Bahkan dipuja oleh kebanyakan para remaja Islam.
Sungguh hinanya peradaban cangkang dan selalu memuja kemaksiatan (sekulerisme). Yang berjuang demi Islam dimatikan. Sementara yang berzina, selalu diagung-agungkan. Apalagi dia seorang selebritis yang kawakan. Dosa zinanya jadi kemuliaan.
Dalam sistem sekuler, ada yang berakhlak tapi tak berTuhan. Jujur selalu diserukan. Amanah selalu dikampanyekan. Rendah hati selalu digalakan.
Tapi sayang seribu kali sayang. Syariat Allah SWT selalu dicampakkan. Sistem khilafah dihinakan. Hendak mendirikan Negara Islam dianggap sebagai pembangkangan.
Sebaliknya, demokrasi dibela habis-habisan. Meski dia adalah seorang yang selalu mengedepankan akhlak mulia dan lahirnya mengaku berTuhan. Tapi tetap saja lebih ridho pada demokrasi daripada syariat Islam.
Itulah renungan dari apa yang pernah diungkapkan oleh Ali bin Abi Thalib: “Banyak orang baik tapi tak berakal. Ada yang berakal tapi tak beriman. Ada lidah fasih tapi hati lalai. Ada yang khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan Iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi. Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang tulus tapi wajah cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pelacur yang tampil jadi figur. Dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan”.
Semoga kita semua terhindar dari segala niat, ucap, dan tingkah laku yang menjadikan kita mendapatkan kehinaan dunia dan akhirat.
Semoga kita juga terhindar dari segala jebakan dan tipu daya dunia yang dihembuskan oleh paham sekulerisme, di mana sekulerisme hanya mengajarkan manusia bagaimana mencintai dunia seutuhnya dan menafikan aturan Allah untuk mengatur kehidupan manusia dalam seluruh aspek kehidupan, dan melupakan kehidupan akhirat sebagai hakekat hidup sebenarnya bagi umat manusia.
Sebaliknya, kita harus semakin yakin hanya dengan menerapkan aturan Allah SWT dalam seluruh aspek kehidupan dari mulai urusan akidah, ibadah, poltik, hukum, urusan individu, keluarga, masyarakat, dan Negara yang akan mengantarkan kita untuk meraih keselamatan dan kebahagiaan dunia dan akhirat yang dinaungi ridho, ampunan, dan rahmat Allah SWT. Wallahu A’lam. Tamat.