Orang kaya sibuk menumpuk-numpuk harta, orang miskin sibuk menumpuk-numpuk derita.
Para penguasa sibuk menuruti nafsu kuasa, rakyat jelata sibuk menuruti angan tanpa daya. Para pekerja sibuk menanti gaji naik, para penganggur sibuk mencari kerja.
Kaum agamawan sibuk menjual ayat-ayatNya, orang awam sibuk menjual kebodohannya. Para pengajar dan dosen sibuk memperbanyak gelar dengan harapan dapat gaji yang besar, para pelajar dan mahasiswa sibuk menikmati masa muda yang penuh syahwat membara.
Sementara itu, aku sibuk memikirkan mereka, tapi aku lalai memikirkan nasibku di dunia dan akhirat. Seharusnya aku sibuk amar ma’ruf nahi munkar, aku sibuk bertaubat, aku sibuk menyelamatkan diri, keluarga, umat manusia, dan peradaban dunia dari murka Allah, dan aku sibuk tunduk utuh pada segala titahNya.
Oh diri, maafkanlah kesadaranku yang sering keliru memaknai kesibukan. Seharusnya aku sibuk agar Allah mencintai diriku, bukan sibuk untuk mendapatkan cinta mahlukNya.
Baca juga:
- Menjadi Kaya atau Menjauhi Miskin Bukan Tujuan Hidup Manusia kaya misikinnya manusia, bukan urusan manusia. Yang menjadi urusan manusia...
- Ilmu yang Benar Itu… Menuntut ilmu bukan untuk menumpuk-numpuk informasi, mencari sesuap nasi, apalagi...
- KEBAHAGIAAN DAN KESUKSESAN BUKAN TUJUAN yang sebenarnya menjadi tujuan hidup di dunia itu hanyalah untuk...
- Surat Cinta untuk yang Selalu Mengatasnamakan Cinta Namun ketika sesal hanya sebatas sesal yang didominasi rasa. Setan...
- PENGANTAR MENGENAL DIRI Bagaimana bisa menyibukkan diri untuk mempelajari siapa diri, apa yang...
- KETIKA AMAL KEBAIKAN SEPERTI DEBU YANG BERTERBANGAN Seluas langit dan bumi sekalipun aku punya amal kebaikan, ternyata...


